Oleh Labai Korok
Mimbar-minangnews.com | Sebelum tidur di surau tuo lubuk tanah, Kita sering bakabaa, bapantun menjelang mata tertutup, itu kebiasaan anak nagari mendapatkan hikmah dari kehidupan ini. Penulis ingat ada cerita cicak, semut dan burung disaat Nabi Ibrahim as dibakar oleh penguasa zholim.
Kisah ini sangat populer sebenarnya dikalangan ummat Islam, yaitu ada hewan-hewan yang ikut terlibat dalam kejadian Nabi Ibrahim as itu dibakar, disini mulai apa itu keberpihakan kepada kebaikan, yang menjadi hikmah.
Cicak dijelaskan dalam kisah Nabi Ibrahim as tersebut tidak berpihak kepada kebaikan, malah binatang melata ini kut meniup-niup api yang membakar Nabi Ibrahim as.
Cerita yang Penulis dapat adalah dibalik kejadian tersebut, ada beberapa spesies hewan yang terlibat. Hewan-hewan yang dimaksud adalah cicak, semut, dan burung. Di antara hewan-hewan itu ada yang berpihak pada Nabi Ibrahim dan ada yang berpihak pada kaum kafir.
Semut misalnya, ia dengan susah payah berlari ke membawa butiran air dengan mulutnya untuk memadamkan api yang mulai menyelimuti tubuh Nabi Ibrahim. Melihat usaha semut tersebut, seekor burung justru nyinyir dan meragukan apa yang dilakukan semut.
Kata burung ; “Wahai semut, tidak mungkin setetes air yang ada di mulutmu akan mampu memadamkan kobaran api yang sangat besar itu”.
Memang benar air ini tidak akan mampu memadamkan api itu. Tapi ini kulakukan paling tidak semua akan melihat bahwa aku berada di pihak yang mana,” kata semut menjawab.
Di sisi lain, cicak justru berusaha meniup api dan memperbesarnya sehingga ia dengan gamblang berpihak pada kezaliman.
Kisah ini dari peristiwa tersebut, disampaikan oleh Imam Bukhari dalam sebuah riwayat tentang perintah Rasulullah untuk membunuh cicak, karena ia ikut meniup api untuk membakar Nabi Ibrahim, padahal binatang melata lainnya berusaha untuk memadamkan apinya.
Secuil cerita cicak, semut dan burung tersebut memberikan pelajaran kepada ummat Islam terhusus anak nagari bahwa kita perlu ada keberpihakan terdapat situasi yang memojokan ummat dari kezholiman, dari isu yang memojokan anak nagari dalam isu intoleransi seperti kasus Padang Sarai kemarin.
Disini kita anak nagari berlaku adil, bersikap dengan berpihak kepada anak nagari Padang Sarai bahwa kasus yang terjadi adalah anak nagari memintak tempat ibadah ilegal ditutup.
Apapun situasi yang terjadi di Padang Sarai tersebut maka anak nagari tetap belajar dari kisah cicak, semut dan burung tersebut.







