Mimbar-minangnews.com | Beberapa bulan terakhir, hampir di seluruh media sosial yang saya miliki, terus bermunculan notifikasi yang mengabarkan informasi terkait kondisi padang pariaman, baik dengan ke eksistensi-an pimpinan daerah, perbedaan pendapat para tokoh politik dan kaum adat, hingga obrolan pemekaran daerah. Dimulai dari genjarnya para tokoh nasional yang hadir dan datang bertamu ke padang Pariaman, hadirnya kegiatan-kegiatan kebudayaan lokal dan budaya konvensional, munculnya para tokoh-tokoh untuk memberikan masukan dan penolakan hingga pada narasi-narasi pemekaran daerah, dan Moment – moment ini sering terjadi, bukan karena hasil pemilihan kepala daerah yang belum memuaskan, akan tetapi ini adalah dinamika yang mulai hadir dan menghangatkan nalar berfikir kritis para tokoh piaman. Konsep kritis yang dibangun dengan menggunakan nalar yang baik, sistematis dan universal menjadikan konsep kritis ini menjadi lebih konstruktif dan relevan dengan kemajuan-kemajuan yang selalu di impikan masyarakat. Bagaimana tidak, hampir disetiap program kegiatan dan agenda kepala daerah selalu diperbincangkan di dunia maya, dimana terbuka ruang diskusi yang sebesar-besarnya untuk kemajuan padang pariaman, artinya ini bentuk nyata padang pariaman sudah menunjukan era transformatif digital dalam dunia diskusi dan gerakan, meski inovasi yang ditimbulkan dalam transformasi digital ini sering terjadi kegagapan.
Tapi Pada dasarnya tokoh-tokoh muda dan tua yang selalu menentang dan mengkritisi kebijakan kepala daerah itu adalah Her Majesty’s loyal opposition meskipun mereka menentang Pemerintah, mereka juga tetap setia Pada Negara, Perlu juga di garis bawahi bahwa setiap kebijakan yang selalu diterima juga akan mengalami hal buruk yang besar, seperti zimbabwe di bawah kepemimpinan Robert Mugabe dimana semua kebijakan Reformasi agraria, diterima tanpa perlawanan karena seluruh oposisi dan kritik di bungkam dan dimatikan, akibatnya ekonomi runtuh total dan Mugabe di Paksa Mundur Pada Tahun 2017. Maka dari itu saya sangat bahagia dan bangga dengan Munculnya narasi dan nalar kritis di Kabupaten yang diantara mereka menganut konsep egaliter dengan Falsafahnya “Duduak samo randah tagak samo tinggi”.






