Today

Ritual Mangkatangahan Marapulai, Perkawinan Adat Piaman

Oleh Labai Korok Piaman

Kekuatan adat saat dilakukan ritual perkawinan, peran anak mudo yang dikomandoi oleh palo mudo (bukan ketua pemuda) sangat lah menentukan aplikasi suksesnya adat perkawinan Piaman.

Anak mudo dinaikan satu hari sebelum dilakukan acara baralek perkawinan, baik tempat rumah anak daro maupun marapulai. Anak mudo dikumpulkan oleh tetuanya (palo mudo) ditengah rumah dengan satu acara yaitu didudukan sebagai pelaksana acara baralek dengan ritual Piaman tersebut.

Saat dilakukan manaian atau saat rapat anak mudo ini dilakukan juga prosesi adat istiadat, salah satunya adalah barundiang mamasaan siriah cirano, membagi tugas kerja anak mudo dan terakhir ditunjuk orang perorang sebagai pelaksana tugas tahapan dari ritual yang ada disaat baralek tersebut.

Selama prosesi baralek anak mudolah yang mendampingi marapulai, anak mudo menjalankan tahapan acara, mengawal terselenggaranya prosesi ritual adat istiadat baralek ala Piaman ini.

Jika kerja dan tangung jawab ritual perkawinan anak mudo Piaman ini dibawa kekonsep organisasi nasional maka peran anak mudo dalam baralek tersebut sama dengan tim iven organizer (pihak pelaksana acara) tapi dalam konsep ritual peran anak mudo dibaralek lebih dari itu, sangat luas dan penting.

Selama baralek semua aktifitas dan pekerjaan dilakukan marapulai (laki-laki) harus didampingi oleh anak mudo atau dilaksanakan anak mudo seperti mau memasang baju marapulai, itu yang memasangkan baju adalah anak mudo yang ditunjuk melalui arahan dari orang tua kampung.

Jika dilihat secara konferensi peran anak mudo itu menentukan kesuksesan dalam penyelenggaraan baralek tersebut. Tidak main-main, andaikan ada agenda tambahan yang diminta oleh pihak pasangan/dua belah pihak pengantin, lalu tidak diketahui anak mudo maka tidak bisa diselenggarakan permintaan itu.

Anak mudo yang mendamping semua kegiatan peserta perkawinan, ibaratnya anak mudo inilah pihak protokoler yang diberi tangung jawab mensukseskan acara VIP dalam konsep pemerintahan.

Puncak dari ritual perkawinan yang ditunggu oleh anak mudo adalah mangkatangahan marapulai yaitu diakhir pesta, bertepatan jam 01.00an dini hari, anak mudo dengan marapulai diantar ke rumah anak daro bersama-sama.

Sesampai di rumah anak daro rombongan marapulai tadi disambut oleh istri mamak (mintuo, mertua atau yang mewakili pihak perempuan.

Sebelum marapulai dikatangahan (penganten laki-laki dimasukan kedalam kamar pengantin perempuan), tuan rumah menghidangkan makanan sambil berdiskusi ringan (bercengkrama).

Setelah makan selesai lalu pihak perempuan akan meminta izin kepada anak mudo untuk membawa marapulai ke kamar anak daro, sebelum anak mudo mengizinkan maka sang marapulai belum bisa masuk kamar.

Terkadang sebelum marapulai masuk kamar, anak mudo akan melakukan pengecekan kamar tersebut, ini prosesi adat juga. Ketika dianggap rancak baru marapulai masuk kedalam kamar dan anak mudo tinggal ditengah rumah sambil tiduran atau bisa juga bergadang atau ronda.

Tuan rumah biasa arif dan bijaksana, ketika marapulai masuk kamar, anak mudo tinggal ruangan tengah, ke biasanya tuan rumah akan memberikan bantal dan selimut sebagai penghargaan agar anak mudo beristirahat sembari mangkatangahan selesai.

Sebelum sibuk masuk, anak mudo biasanya mengetuk pintu agar marapulai keluar kamar dan meninggalkan rumah istrinya. Namun dibeberapa tempat di Piaman ada adat tambahan yaitu sebelum marapulai meninggalkan rumah anak daro, mintuo atau mamak istri memandikan sang penganten sebelum subuh, sambil melecut dengan lidih dan dilimau pakai kembang.

Sebelum nyampai dirumah marapulai laki, anak mudo singgah dahulu sarapan pagi ditempat khusus, bagadang namanya sambil berhibura paska mangkatangahan tersebut, terkahir prosesi anak mudo diturunkan dari kedua setelah baralek, sambil anak mudo diberi penghargaan dengan diberi dana cuci sabun.