Today

ADAB PARA PENGIKUT

Oleh : Irsyad Syafar

Berbeda pendapatnya para Ulama itu adalah hal yang biasa. Bahkan generasi terbaik dari umat inipun tidak terhindar dari perbedaan pendapat. Merekalah para sahabat Rasulullah Saw, generasi yang diredhai oleh Allah. Diantara mereka juga terjadi khilafiyah.

Abu Bakar pernah berbeda pendapat dengan Umar soal tawanan perang Badar dan tentang pengumpulan Al Quran. Umar berbeda pendapat dengan Utsman dalam menyikapi unta yang hilang yang tidak diketahui pemiliknya. Umar bin Khattab pernah berbeda pendapat dengan Ali soal wanita yang dinikahi sebelum habis masa iddahnya.

Pada musim haji di masa khilafah Utsman, Ibnu Mas’ud juga pernah berbeda pendapat dengan Utsman bin Affan tentang rakaat shalat ketika mabit di Mina. Ustman melakukannya penuh 4 rakaat, Ibnu Mas’ud berpendapat itu harusnya diqashar. Para sahabat pernah berbeda pendapat dalam menyikapi hadits larangan shalat Ashar di Bani Quraizhah. Dan banyak lagi contoh-contoh lainnya.

Di level madzhab besar saja, di dalam madzhab yang sama, terjadi perbedaan pendapat. Dua murid terkenal Imam Abu Hanifah, yaitu Abu Yusuf dan Muhammad Asy Syaibani juga ada berbeda pendapat dengan gurunya. Imam Syafi’i menyelisihi pendapat gurunya, Imam Malik. Imam Ahmad bin Hanbal juga berguru kepada Abu Yusuf murid Abu Hanifah, dan juga berguru kepada Imam Syafi’i. Tapi kemudian beliau punya perbedaan-perbedaan kesimpulan hukum dengan kedua gurunya.

Walaupun mereka berbeda pendapat, akan tetapi perbedaan tersebut tidaklah menimbulkan kehebohan dan permusuhan. Mereka tetap saling menghormati dan tidak pernah membully. Sedangkan kita saat ini, bila ada Ulama berbeda pendapat, kita jadi heboh dan bisa saling memusuhi. Khususnya para pengikut (supporter) masing-masing Ulama. Dan itu budaya atau perilaku yang tidak baik.

Oleh karena itu, kepada para pengikut, atau orang-orang yang tidak memiliki kompetensi ilmu agama (minimal mengecap pendidikan S1 dibidang syar’i) yang baik, sebaiknya anda menahan diri dan menjaga adab-adab berikut:

  1. Jangan anda terlalu fanatik dengan satu pendapat atau satu Ulama (Ustadz) sehingga anda anggap pendapat beliau itu adalah kebenaran mutlak. Dan yang menyelisihinya adalah salah.
  2. Jangan anda terlalu fanatik dengan Ustadz “idola” anda sehingga menganggapnya tidak pernah salah. Sebab yang ma’shum itu hanya Rasulullah Saw.
  3. Jangan anda menjadi dewan juri dalam menetapkan pendapat Ustadz mana yang benar dan kuat, dan Ustadz yang lain salah atau lemah. Sebab, anda tidak punya ilmu untuk menyamai mereka, apalagi untuk menjadi dewan juri bagi mereka semua.
  4. Yang terjauh yang bisa anda lakukan adalah, ikuti saja yang menurut anda lebih kuat atau rasional. Dan anda tidak boleh menyalahkan pendapat yang berbeda. Sebab lagi-lagi anda tidak punya kapasitas untuk menyalahkannya.
  5. Hentikan menuduh pengikut pendapat yang berbeda sebagai buzzer, karena perilaku anda yang berlebihan dalam membela “Ustadz” anda dan menyalahkan Ustadz yang berbeda, itu sebenarnya juga perilaku buzzer.

Bila masing-masing pengikut (para supporter) bisa menahan diri dan tidak memposisikan diri sebagai tim penilai, kehebohan akan dapat diminimalisir. Dan biarkan para ulama berpendapat sesuai keilmuannya, kalau mereka berbeda, sesungguhnya manusia-manusia terbaik sebelum mereka juga pernah berbeda pendapat.

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ ۚ إِنَّ ٱلسَّمْعَ وَٱلْبَصَرَ وَٱلْفُؤَادَ كُلُّ أُو۟لَٰٓئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولاً.

Artinya: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS Al Isra:

Wallahu A’laa wa A’lam.