Today

MULTAQA ULAMA SUMATERA BARAT: MENELADANI NABI, MENGEMBAN RISALAH ILAHI, MENYONGSONG MASA DEPAN CERAH DENGAN ISLAM

Oleh: Advokat Buya Ki Jal Atri Tanjung Rajo Amat Mudo

Sekretaris Umum MUI Sumatera Barat

Ulama adalah pewaris para nabi. Mereka menjadi lentera umat, penjaga nilai-nilai agama, sekaligus penunjuk jalan di tengah berbagai perubahan dan tantangan zaman.

Di Ranah Minang, peran ulama memiliki kedudukan yang sangat penting. Sumatera Barat tumbuh dengan falsafah “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah” (ABS-SBK), yang menempatkan nilai agama dan adat sebagai fondasi kehidupan masyarakat.

Karena itu, Multaqa Ulama Sumatera Barat hendaknya tidak berhenti sebagai ruang pertemuan dan silaturahmi. Multaqa harus menjadi momentum konsolidasi pemikiran dan gerakan para ulama untuk meneladani Rasulullah SAW dalam mengemban risalah Ilahi serta menghadirkan Islam sebagai rahmat dan solusi bagi kehidupan umat.

Meneladani Nabi, Esensi Kepemimpinan Ulama

Rasulullah SAW diutus tidak hanya untuk mengajarkan ibadah mahdhah, tetapi juga membawa rahmat bagi seluruh alam. Keteladanan Rasulullah harus diterjemahkan para ulama dalam menjawab persoalan masyarakat.

Setidaknya terdapat tiga nilai utama yang perlu terus dihidupkan.

Pertama, tabligh. Ulama harus menyampaikan kebenaran dengan hikmah, istiqamah, dan tanpa pamrih. Dakwah tidak cukup sekadar menyampaikan pesan, tetapi harus mampu menyentuh persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.

Kedua, tarbiyah. Ulama memiliki tanggung jawab mendidik umat melalui ilmu, akhlak, dan keteladanan. Pendidikan umat harus mampu melahirkan generasi yang kokoh agamanya sekaligus mampu menghadapi perkembangan zaman.

Ketiga, taqwim. Ulama harus berani meluruskan kekeliruan dan menjalankan amar ma’ruf nahi munkar dengan cara yang ma’ruf, bijaksana, serta mengedepankan kemaslahatan.

Inilah semangat yang semestinya menjadi ruh Multaqa Ulama Sumatera Barat: bukan sekadar berkumpul, tetapi menyatukan visi dan langkah dalam menjalankan amanah keulamaan.

Empat Tantangan Besar Umat

Masa depan yang baik tidak datang dengan sendirinya. Ia harus diperjuangkan. Saat ini setidaknya terdapat empat tantangan besar yang membutuhkan perhatian serius.

Pertama adalah krisis akhlak dan identitas. Arus informasi yang begitu cepat membawa manfaat sekaligus ancaman. Narkoba, judi online, konten negatif, serta berbagai bentuk degradasi moral harus dijawab melalui penguatan keluarga, pendidikan, agama, dan lingkungan sosial.

Kedua, persoalan ekonomi umat. Kemiskinan, ketimpangan ekonomi, keterbatasan akses permodalan, dan belum optimalnya pengembangan ekonomi syariah membutuhkan gerakan bersama.

Ketiga, krisis lingkungan. Persoalan sampah, banjir, pencemaran, dan kerusakan alam tidak boleh dipandang semata-mata sebagai persoalan teknis. Islam mengajarkan manusia sebagai khalifah fil ardh yang memiliki tanggung jawab menjaga bumi.

Keempat, krisis kepemimpinan dan keteladanan. Masyarakat membutuhkan ulama yang bukan hanya fasih berbicara di mimbar, tetapi juga hadir di tengah umat, memahami persoalan mereka, dan ikut menawarkan jalan keluar.

Dari Multaqa Menuju Gerakan Nyata

Multaqa Ulama Sumatera Barat perlu melahirkan agenda konkret yang dapat dirasakan masyarakat.

Dalam bidang dakwah dan pendidikan, masjid, surau, pesantren, dan majelis taklim harus kembali diperkuat sebagai pusat pembinaan umat. Pendidikan agama perlu berjalan beriringan dengan penguasaan sains, teknologi, literasi digital, dan kewirausahaan sehingga lahir generasi yang hafizh, cerdas, produktif, dan berakhlak.

Pada bidang ekonomi syariah, penguatan Baitul Maal wat Tamwil (BMT), koperasi syariah, zakat, infak, sedekah, serta wakaf produktif harus terus didorong. UMKM halal Sumatera Barat juga perlu mendapatkan pendampingan agar mampu meningkatkan kualitas dan memperluas pasar.

Kemudian dalam bidang adat dan nagari, sinergi ulama, niniak mamak, cadiak pandai, bundo kanduang, pemuda, dan pemerintah perlu diperkuat. Persoalan masyarakat akan lebih mudah diselesaikan apabila seluruh unsur tersebut duduk bersama dengan semangat musyawarah dan kemaslahatan.

Sementara itu, dakwah digital tidak boleh ditinggalkan. Ruang digital telah menjadi bagian kehidupan masyarakat, terutama generasi muda. Ulama harus hadir membawa narasi yang mencerahkan, menangkal hoaks, serta menyebarkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Lima Rekomendasi untuk Ditindaklanjuti

Agar visi Multaqa tidak berhenti sebagai wacana, terdapat lima langkah yang patut menjadi perhatian bersama:

  1. Memperkuat kelembagaan ulama hingga tingkat nagari. Kehadiran ulama di nagari harus menjadi garda terdepan pembinaan umat, penyelesaian persoalan sosial-keagamaan, dan penguatan nilai ABS-SBK.
  2. Menyusun materi keumatan secara berkala. Khutbah, ceramah, dan kajian perlu semakin menyentuh persoalan aktual seperti bahaya narkoba, judi online, ketahanan keluarga, lingkungan, ekonomi syariah, serta persoalan sosial lainnya.
  3. Mendorong penguatan regulasi ekonomi syariah dan wakaf produktif. Aset dan potensi ekonomi umat perlu dikelola secara profesional agar memberikan manfaat bagi pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat.
  4. Memperkuat muatan lokal Islam dan kearifan Minangkabau di sekolah. Generasi muda perlu dibekali pemahaman tentang agama, adat, akhlak, adab, sejarah, dan kecintaan terhadap nagari agar tidak tercerabut dari akar budayanya.
  5. Membangun kolaborasi ulama, pemerintah, dan generasi muda dalam menangani persoalan strategis. Narkoba, kerusakan lingkungan, judi online, ketahanan keluarga, dan pengembangan UMKM halal membutuhkan gerakan bersama yang nyata hingga ke tengah masyarakat.

Menuju Sumbar Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur

Masa depan Sumatera Barat yang cerah bukanlah sebuah mimpi apabila seluruh unsur masyarakat mau bergerak bersama.

Kita menginginkan Sumatera Barat yang masyarakatnya kokoh akhlaknya, kuat ekonominya, terjaga adat dan budayanya, lestari lingkungannya, serta sejahtera lahir dan batin.

Di sinilah Multaqa Ulama memperoleh makna strategis. Ulama memberikan tuntunan moral dan keagamaan, masyarakat menjadi kekuatan gerakan, sementara pemerintah hadir melalui kebijakan yang berpihak kepada kemaslahatan.

Falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah jangan hanya menjadi slogan. Nilai tersebut harus hadir dalam keluarga, sekolah, masjid, surau, nagari, aktivitas ekonomi, kehidupan sosial, hingga kebijakan pembangunan.

Penutup

Multaqa Ulama Sumatera Barat harus menjadi momentum untuk memperkuat kembali risalah keumatan dan membangun peradaban.

Sebagaimana Rasulullah SAW membangun masyarakat Madinah melalui keimanan, persaudaraan, ilmu, keadilan, dan keteladanan, ulama Sumatera Barat juga memiliki tanggung jawab besar untuk ikut membangun nagari, membina umat, dan menyiapkan generasi masa depan.

Rekomendasi Multaqa hendaknya tidak selesai ketika forum berakhir. Ia harus diterjemahkan menjadi program, kolaborasi, dan gerakan nyata di tengah masyarakat.

Sebab, masa depan Sumatera Barat yang cerah harus dijemput melalui ilmu, iman, akhlak, kerja keras, persatuan, dan nilai-nilai Islam yang membawa rahmat bagi seluruh kehidupan.

“Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu umat pertengahan agar kamu menjadi saksi atas manusia.”
(QS. Al-Baqarah: 143)

Advokat Buya Ki Jal Atri Tanjung Rajo Amat Mudo
Sekretaris Umum MUI Sumatera Barat
Opini | MMNEWS — mimbar-minangnews.com

Berita lainnya

Seedbacklink