PADANG, MMNews – Pemerintah Kota Padang menghadirkan terobosan digital dalam distribusi daging kurban bagi Aparatur Sipil Negara (ASN). Jika sebelumnya pembagian daging kurban identik dengan antrean panjang, kepadatan massa, hingga persoalan kupon ganda, kini sistem barcode menjadi solusi modern yang diklaim lebih cepat, tertib, transparan, dan efisien.
Transformasi ini menandai perubahan besar dalam tata kelola pembagian daging kurban di lingkungan Pemko Padang. Sistem digital tersebut kembali diterapkan setelah uji coba pada tahun 2025 dinilai sukses menekan berbagai persoalan klasik di lapangan.
Ketua Panitia Kurban Pemko Padang, Didi Aryadi, mengatakan penggunaan barcode menjadi langkah strategis untuk memastikan distribusi berjalan lebih profesional dan bebas dari potensi penyalahgunaan.
“Sistem barcode ini sudah kita mulai sejak tahun lalu. Hasilnya efektif, sehingga tahun ini kembali diterapkan untuk mempermudah para peserta,” ujar Didi Aryadi yang juga Asisten II Setdako Padang, Kamis (7/5/2026).
Sebelum digitalisasi diterapkan, proses distribusi kerap menghadapi tantangan serius. Kupon fisik berpotensi digandakan oleh oknum tertentu, sementara antrean di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) sering memicu kemacetan parah yang mengganggu aktivitas warga sekitar.
Kasubag Bina Mental Bagian Kesra Setdako Padang, Zul Asfi Lubis, mengungkapkan kondisi sebelum penerapan sistem digital memang cukup semrawut.
“Dulu pengambilan daging menumpuk di satu titik, kawasan RPH Dinas Pertanian sampai macet total,” ungkapnya.
Dalam skema baru ini, setiap peserta kurban menerima satu barcode unik yang tersimpan di ponsel masing-masing. Saat pengambilan daging di lokasi, petugas cukup memindai barcode tersebut. Setelah tervalidasi, sistem secara otomatis mengunci barcode agar tidak dapat digunakan kembali.
Setiap peserta berhak menerima 1,5 kilogram daging kurban, dengan proses yang jauh lebih sederhana tanpa birokrasi berbelit.
Tak hanya menghadirkan efisiensi, Pemko Padang juga menekankan aspek kebersihan dan kepedulian lingkungan. Distribusi dilakukan di lokasi yang higienis serta mengurangi penggunaan kantong plastik sebagai bagian dari upaya ramah lingkungan.
Langkah ini dinilai bukan sekadar inovasi teknis, melainkan simbol modernisasi pelayanan publik di Kota Padang. Digitalisasi yang selama ini identik dengan layanan administrasi kini merambah pelaksanaan kegiatan keagamaan, menghadirkan tata kelola yang lebih akuntabel dan profesional.
Dengan inovasi ini, Pemko Padang menunjukkan bahwa tradisi ibadah kurban tetap dapat dijalankan dengan nilai kebersamaan, namun melalui pendekatan yang lebih modern, tertib, dan transparan. (*)








