Today

Perjuangan Guru Tempuh Jalan Rusak Demi Mengajar di SDN 08 Nenan Maek

 

Lima Puluh Kota — Dedikasi seorang guru kembali terlihat dari perjuangan yang harus ditempuh untuk mencapai tempat tugas. Di SD Negeri 08 Nenan Maek, Jorong Nenan, Nagari Maek, Kecamatan Bukik Barisan, Kabupaten Lima Puluh Kota, para guru harus menghadapi kondisi jalan yang rusak berat setiap harinya demi memberikan pendidikan kepada siswa.

Akses menuju sekolah melalui ruas jalan Sopan Gadang – Nenan hingga kini masih dalam kondisi memprihatinkan.

Jalan tersebut dipenuhi batu-batu besar, permukaan tidak rata, serta lubang-lubang akibat aliran air hujan. Kondisi ini semakin parah ketika musim hujan tiba, di mana jalan menjadi licin dan sulit dilalui, bahkan tidak jarang tidak bisa dilewati sama sekali.

Salah seorang guru di sekolah tersebut, Silvatri Reza Vianda, mengungkapkan bahwa perjuangan menuju sekolah bukanlah hal yang mudah. Ia harus menempuh jarak sekitar 13 kilometer dari rumahnya di Koto Tinggi II, Nagari Maek, setiap hari.

“Kondisi jalan bisa dikategorikan rusak berat. Banyak batu besar dan lubang di tengah jalan. Kalau musim hujan, benar-benar tidak bisa dilalui. Saya sering harus mendorong motor sendiri sampai bisa melanjutkan perjalanan,” ujarnya.

Silvatri yang telah mengajar selama dua tahun sebagai guru kelas III ini menyebutkan bahwa waktu tempuh ke sekolah berkisar antara 45 hingga 60 menit dalam kondisi normal. Namun, perjalanan bisa memakan waktu lebih lama ketika kondisi jalan memburuk setelah hujan.

Tidak hanya jalan rusak, tantangan lain yang harus dihadapi adalah melintasi aliran sungai tanpa jembatan yang memadai. Saat debit air meningkat, kondisi ini menjadi semakin berbahaya bagi guru maupun siswa yang hendak pergi ke sekolah.

Kondisi tersebut berdampak langsung pada kehadiran dan kelancaran proses belajar mengajar. Silvatri mengungkapkan bahwa saat hujan turun sejak pagi, baik guru maupun siswa seringkali tidak dapat mencapai sekolah.

“Kalau hujan dari pagi, kami benar-benar tidak mampu melewatinya. Ini sangat berpengaruh terhadap kehadiran dan proses belajar mengajar di sekolah,” jelasnya.

Meski dihadapkan dengan berbagai keterbatasan, semangat untuk mengajar tetap menjadi pegangan utama. Silvatri mengaku tetap bersyukur dapat menjalankan tugasnya sebagai pendidik, meskipun harus menghadapi tantangan yang tidak ringan setiap harinya.

“Alhamdulillah, saya tetap semangat. Saya percaya setiap ujian tidak akan melebihi kemampuan kita. Tapi yang sangat disayangkan, daerah kami seperti kurang mendapat perhatian dibanding daerah lain, padahal masyarakat di sini juga taat pajak,” ungkapnya.

Ia berharap pemerintah dapat segera memberikan perhatian serius terhadap kondisi infrastruktur di wilayah tersebut. Perbaikan jalan dan pembangunan jembatan dinilai sangat penting untuk menunjang aktivitas masyarakat, khususnya dalam bidang pendidikan.

“Harapan kami, ada tindak lanjut untuk memperbaiki bagian jalan yang parah di rute Sopan Gadang – Nenan dan dibangun jembatan yang layak, agar masyarakat dan guru bisa lebih mudah dan aman melintas,” harapnya.

Kisah ini menjadi gambaran nyata bahwa akses pendidikan di daerah terpencil masih menghadapi berbagai tantangan.

Perjuangan para guru seperti di SD Negeri 08 Nenan Maek menjadi bukti nyata dedikasi dalam mencerdaskan generasi bangsa, meskipun dihadapkan pada keterbatasan infrastruktur yang belum memadai.(Faj)