Oleh Labai Korok Piaman
Sektor pertanian Sumatra Barat merupakan sektor yang mampu menopang kelas bawah (miskin) bisa bertahan hidup. Seandainya satu keluarga (4 orang) punya sawah berarti mereka tidak beli lagi beras untuk makan.
Andaikan sawah diolah juga Untuk berladang tanaman bahan memasak maka satu hari bisa hemat lebih kurang empat puluh lima ribu dari bahan tanaman untuk membuat sambal atau gulai tersebut.
Jika pola diatas bisa dibuat oleh masyarakat Sumbar, ada keyakinan Penulis bahwa untuk makan keseharian orang Sumatera Barat tidak jadi permasalah dengan asumsi berikutnya keluarga seperti ayah tida kecanduan rokok, ibu dan anak tidak memakai kuota atau pulsa internet dalam keseharian untuk mubazir.
Dari data statistik yang ada bahwasanya orang Sumbar itu miskinnya karena ayah beli rokok, ibu sibuk main tiktok (medsos) menghabiskan kuota/pulsa tanpa mendatangkan pendapatan atau terjadi gaya hidup yang boros.
Perlu diketahui saat ini Fenomena “orang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin” tengah terjadi.
Data dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menunjukkan bahwa tabungan masyarakat atau individu yang kurang dari Rp100 juta terus mengalami penurunan.
Pertumbuhan tabungan masyarakat yang kurang dari Rp100 juta dari Juli 2016 hingga Juli 2019 tercatat sebesar 26,3%. Sementara masyarakat dengan tabungan Rp100 juta hingga Rp200 juta di periode yang sama bertumbuh 29,4%.
Pertumbuhan ini mengalami penurunan jika dibandingkan dengan kondisi Juli 2021 hingga Juli 2024 yang hanya bertambah 11,9% untuk masyarakat dengan tabungan kurang dari Rp 100 juta dan naik 13,3% untuk masyarakat dengan tabungan Rp 100 juta hingga Rp 200 juta
Berbeda halnya dengan masyarakat yang memiliki tabungan di atas Rp 5 miliar atau yang banyak diisi oleh pihak korporasi, justru cenderung mengalami peningkatan yang signifikan.
Pada Juli 2016 hingga Juli 2019 tercatat mengalami kenaikan sebesar 29,7% dan pada Juli 2021 hingga Juli 2024 kembali bertumbuh bahkan lebih tinggi yakni sebesar 33,9%.
Sementara itu, jutaan warga kelas menengah di Indonesia rentan ‘turun kasta’ ke kelas menengah rentan hingga kelompok rentan miskin.
Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2019 jumlah kelas menengah di Indonesia 57,33 juta orang atau setara 21,45% dari total penduduk. Lalu, pada 2024 hanya tersisa 47,85 juta orang atau setara 17,13%. Artinya ada sebanyak 9,48 juta warga kelas menengah yang turun kelas saat ini.
Situasi kelas menengah semakin miskin bisa juga terjadi didaerah Sumatra Barat karena secara nasional kebijakan Pemerintah atau subsidi tidak diberikan kepada kelas menengah.
Namun kelas miskin masih bersyukur, Pemerintah masih memberikan program perlindungan keluarga miskin yang itu bisa membantu untuk bisa mengembangkan pendapat jika semangat untuk berusaha dan bekerja dengan peluang sektor pertanian yang ada di Sumbar.
Sekarang saatnya masyarakat giat bekerja, giat bertani, giat berladang, giat beternak, giat berkebun, apalagi Gubernur Sumatra Barat telah mengalokasikan anggaran daerah 10% untuk pertanian dengan tujuan masyarakat Sumbar yang notabene petani bisa makmur.








