Today

Kabut Asap Ancam Kualitas Udara, Mahyeldi Dorong Penanganan Karhutla Terpadu

19 Hotspot Terdeteksi di Sumbar, Masyarakat Diimbau Kurangi Aktivitas Luar Ruangan dan Gunakan Masker

PADANG, MMNEWS — Gubernur Sumatera Barat (Sumbar), Mahyeldi Ansharullah, mendorong penguatan koordinasi lintas daerah dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), menyusul kabut asap yang mulai memengaruhi kualitas udara di sejumlah wilayah Sumbar.

Mahyeldi menilai persoalan karhutla tidak dapat ditangani secara parsial karena pergerakan asap melintasi batas administrasi. Karena itu, koordinasi antara Sumbar dengan provinsi tetangga serta seluruh instansi terkait perlu diperkuat guna menekan dampak terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat.

Perhatian terhadap kondisi tersebut semakin penting menyusul laporan peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kota Padang yang dalam beberapa hari terakhir mencapai sekitar 600 kasus.

“Kita berharap koordinasi dan sinergi antarseluruh pihak terkait terus diperkuat dalam penanganan karhutla. Ini penting agar dampaknya terhadap kualitas udara dan kesehatan masyarakat dapat kita minimalisir,” ujar Mahyeldi di Padang, Jumat (4/9/2026).

Mahyeldi: Kurangi Aktivitas di Luar Ruangan

Di tengah kondisi kabut asap, Mahyeldi meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan. Aktivitas di luar ruangan yang tidak mendesak sebaiknya dikurangi, terutama bagi kelompok yang rentan terhadap gangguan pernapasan.

“Untuk masyarakat, kita imbau mengurangi aktivitas di luar ruangan. Kalau memang harus beraktivitas di luar, gunakan masker sebagai perlindungan, terutama bagi anak-anak, lansia, dan kelompok masyarakat yang rentan terhadap gangguan pernapasan,” katanya.

Gubernur juga mengingatkan masyarakat agar tidak memperburuk kondisi dengan melakukan pembakaran terbuka, baik pembakaran sampah maupun lahan.

“Kita mengimbau masyarakat untuk tidak membakar sampah dan tidak melakukan pembakaran lahan. Mari bersama-sama menjaga lingkungan dan kualitas udara Sumatera Barat agar tetap sehat dan nyaman,” tegas Mahyeldi.

19 Hotspot Terdeteksi di Lima Kabupaten

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Sumbar, Kuartini Deti Putri, menjelaskan berdasarkan pemantauan periode 1–3 September 2026 hingga pukul 14.00 WIB, sebanyak 19 titik hotspot terdeteksi di Sumatera Barat.

Hotspot tersebut tersebar di Dharmasraya lima titik, Lima Puluh Kota satu titik, Pasaman tiga titik, Pesisir Selatan lima titik, dan Sijunjung lima titik.

“Berdasarkan hasil pemantauan, terdapat 19 titik hotspot yang tersebar di lima kabupaten, yaitu Dharmasraya, Lima Puluh Kota, Pasaman, Pesisir Selatan, dan Sijunjung,” jelas Deti.

Sumsel Tercatat 2.422 Hotspot

Data SIPONGI untuk periode yang sama juga menunjukkan jumlah hotspot yang jauh lebih besar di sejumlah provinsi sekitar Sumbar.

Tercatat 301 hotspot di Jambi, 229 di Riau, 13 di Bengkulu, 46 di Sumatera Utara, serta 2.422 hotspot di Sumatera Selatan.

Kondisi tersebut perlu diwaspadai karena asap akibat karhutla dapat terbawa angin dan bergerak menuju wilayah lain. Namun, pengaruh hotspot dari daerah sekitar terhadap kualitas udara Sumbar tetap bergantung pada arah dan kecepatan angin, kondisi atmosfer, curah hujan, serta faktor meteorologi lainnya.

Kualitas Udara Padang Masih Kategori Sedang

Sementara itu, pemantauan melalui Stasiun Air Quality Monitoring System (AQMS) Padang Pasir di kawasan Kantor Gubernur Sumbar menunjukkan PM2,5 menjadi parameter dominan, dengan konsentrasi rata-rata 19,88 µg/m³ dan maksimum 21,71 µg/m³.

Indikatif Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) PM2,5 tercatat pada rentang 55,9–58,4, sehingga masih berada dalam kategori sedang.

“Untuk indikatif ISPU PM2,5 berada pada rentang 55,9–58,4 atau masih dalam kategori sedang,” terang Deti.

Meski masih dalam kategori sedang, masyarakat diminta tidak lengah. Perubahan kondisi cuaca dan pergerakan asap dapat memengaruhi kualitas udara dalam waktu relatif cepat.

DLH Sumbar mengimbau masyarakat terus mengikuti informasi kualitas udara melalui kanal resmi pemerintah, menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan ketika kondisi udara memburuk, serta menghindari segala bentuk pembakaran terbuka.

MMNEWS | Mimbar Minang News
Sumber: adpsb/bud