Oleh: Advokat Buya Ki Jal Atri Tanjung Rajo Amat Mudo
Sekretaris MUI Sumatera Barat
AMANATNEWS.COM — Manusia kerap terpukau oleh keindahan retorika. Kata-kata dirangkai sedemikian rupa, logika diputar, dan argumentasi dipoles hingga sesuatu yang belum tentu benar tampak meyakinkan.
Padahal, kebenaran sejatinya tidak membutuhkan banyak hiasan. Kebenaran cukup disampaikan secara sederhana, jujur, tulus, dan apa adanya.
Sejarah memberi banyak pelajaran bahwa kesombongan manusia tidak selalu runtuh oleh perdebatan panjang. Justru, tidak jarang kesombongan tumbang ketika berhadapan dengan kepolosan bahasa yang berdiri di atas kebenaran hakiki.
Bahasa Lurus, Tidak Bersembunyi di Balik Retorika
Kepolosan bahasa bukan berarti miskin pengetahuan atau lemah dalam argumentasi. Kepolosan adalah keberanian menyampaikan sesuatu secara lurus tanpa memutarbalikkan fakta dan tanpa menciptakan pembenaran untuk kepentingan tertentu.
Setidaknya ada tiga karakter yang melekat pada kepolosan bahasa: sederhana, jujur, dan tulus.
Sederhana berarti mudah dipahami semua kalangan. Jujur berarti mengatakan sesuatu sesuai kenyataan. Sedangkan tulus berarti perkataan lahir dari hati, bukan dikendalikan kepentingan tersembunyi.
Kisah Nabi Musa AS menghadapi Fir’aun memberikan gambaran tentang betapa kekuasaan besar tidak selalu mampu mengalahkan kebenaran.
Fir’aun memiliki kekuasaan, bala tentara, harta, dan para penyihir. Namun semua kebesaran duniawi itu tidak mampu mempertahankan kesombongannya ketika berhadapan dengan kebenaran yang dibawa Nabi Musa.
Pesannya jelas: kebenaran tidak ditentukan oleh seberapa besar kekuasaan yang berada di belakang seseorang.
Kebenaran Hakiki Tidak Memerlukan Dusta untuk Bertahan
Kebenaran hakiki ibarat cahaya. Ia mungkin dapat ditutupi untuk sementara waktu, tetapi tidak mudah dipadamkan.
Kebenaran memiliki karakter yang berbeda dengan kebohongan. Kebohongan membutuhkan kebohongan berikutnya agar cerita sebelumnya tetap terlihat masuk akal. Sebaliknya, kebenaran tidak membutuhkan dusta untuk mempertahankan dirinya.
Kebenaran juga menghadirkan ketenteraman bagi hati yang menerimanya dengan jernih.
Dalam perjalanan dakwah Rasulullah SAW, pesan tauhid disampaikan dengan sangat tegas dan sederhana. Salah satu pesan fundamental itu termaktub dalam kalimat:
“Qul huwallahu ahad” — Katakanlah, Dialah Allah Yang Maha Esa.
Pesannya singkat, tetapi mengguncang fondasi kemusyrikan masyarakat Quraisy ketika itu.
Di sinilah terlihat bahwa kekuatan sebuah pesan bukan semata-mata terletak pada panjangnya kalimat, melainkan pada kebenaran yang dikandungnya.
Tiga Wajah Kesombongan Manusia
Kesombongan manusia sering berangkat dari tiga perasaan: merasa paling pintar, merasa paling kuat, dan merasa paling benar.
Orang yang merasa paling pintar terkadang menggunakan kerumitan bahasa untuk menutupi kelemahan argumentasinya. Kepolosan bahasa menghadapi itu dengan kesederhanaan yang membuka fakta.
Orang yang merasa paling kuat mengandalkan kekuasaan, jabatan, kekayaan, atau pengaruh. Namun kebenaran hakiki tidak dapat dibeli dengan kekuasaan.
Sementara orang yang merasa paling benar sering sulit menerima koreksi. Cara menghadapinya bukan dengan cacian, tetapi dengan fakta yang disampaikan secara jernih, tenang, dan bertanggung jawab.
Kesombongan Iblis juga berangkat dari perasaan superior ketika merasa dirinya lebih baik daripada Adam. Kisah tersebut menjadi peringatan sepanjang zaman bahwa merasa lebih tinggi dari orang lain dapat menjadi pintu kehancuran.
Tantangan di Era Media Sosial
Pelajaran mengenai bahasa dan kebenaran semakin relevan di tengah derasnya arus informasi digital.
Media sosial membuat siapa saja dapat berbicara kepada publik dalam hitungan detik. Sayangnya, kecepatan berbicara tidak selalu diikuti kehati-hatian dalam mencari kebenaran.
Semua ingin paling cepat, paling nyaring, paling viral, bahkan terkadang ingin menjadi pihak yang paling benar.
Akibatnya, ruang publik mudah dipenuhi perdebatan yang menyerang pribadi, informasi yang belum terverifikasi, hingga narasi yang sengaja dibentuk untuk memenangkan kepentingan tertentu.
Karena itu, masyarakat perlu kembali kepada dua pegangan.
Pertama, berbicara secara jujur dan sederhana. Katakan benar apabila memang benar dan katakan salah apabila terbukti salah, tanpa harus merendahkan martabat orang lain.
Kedua, berpegang teguh kepada kebenaran hakiki, dengan menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai pedoman kehidupan serta menggunakan hati nurani, fakta, dan kejujuran dalam melihat persoalan.
Kebenaran Akan Menemukan Jalannya
Kesombongan mungkin terlihat kokoh seperti karang. Ia dapat ditopang kekuasaan, kekayaan, jabatan, popularitas, bahkan kecanggihan retorika.
Namun semua itu memiliki batas.
Kebenaran mungkin datang dengan bahasa sederhana. Ia mungkin tidak disertai gemuruh tepuk tangan dan tidak selalu menjadi sesuatu yang paling viral.
Tetapi ketika kebenaran disampaikan dengan jujur dan konsisten, ia mempunyai kekuatan untuk membuka apa yang selama ini ditutupi.
Kesombongan manusia memang dapat menjulang tinggi, tetapi sesungguhnya rapuh. Terkadang cukup satu kalimat sederhana yang benar untuk meruntuhkan bangunan kebohongan yang telah disusun bertahun-tahun.
Allah SWT berfirman:
“Dan katakanlah: Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap. Sesungguhnya yang batil itu pasti lenyap.”
(QS. Al-Isra: 81)
Pada akhirnya, bukan keindahan retorika yang menentukan nilai sebuah perkataan, melainkan kejujuran hati dan kebenaran yang dibawanya.
Wallahu a’lam bishawab.







