TANAH DATAR, MMNEWS, Selasa 28/07/2026 – Pemanfaatan dana Transfer ke Daerah (TKD) oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Pemprov Sumbar) untuk percepatan penanganan pascabencana membuahkan hasil nyata. Setelah sempat terputus selama satu setengah bulan akibat banjir bandang, akses vital yang menghubungkan Ruas Jalan Sitangkai–Tanjung Ampalu di perbatasan Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Sijunjung kini kembali normal.
Jembatan Bailey yang dibangun Pemprov Sumbar melalui Dinas Bina Marga, Cipta Karya, dan Tata Ruang (BMCKTR) mulai dapat dilalui kendaraan sejak 9 Juli 2026. Kehadiran jembatan ini mengakhiri masa isolasi yang selama 1,5 bulan menghambat mobilitas masyarakat sekaligus melumpuhkan aktivitas ekonomi, pendidikan, dan distribusi barang di kawasan tersebut.
Sebelumnya, jembatan utama putus diterjang banjir bandang pada 20 Mei 2026. Akibatnya, masyarakat kehilangan jalur penghubung utama antara Tanah Datar dan Sijunjung. Selama akses terputus, warga harus memutar melalui jalur Kumani–Tanjung Bonai Aua–Koto Panjang–Tigo Jangko–Pangian Lintau, dengan tambahan jarak sekitar 19–20 kilometer dan waktu tempuh mencapai satu jam.
Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat. Pelajar dan mahasiswa asal Sijunjung yang bersekolah maupun kuliah di Tanah Datar harus menempuh perjalanan lebih jauh setiap hari sehingga biaya transportasi meningkat. Distribusi hasil pertanian, perkebunan, kebutuhan pokok, hingga aktivitas pelaku UMKM dan jasa angkutan pun ikut terganggu.
Kini, kondisi mulai berangsur pulih. Arus kendaraan kembali ramai melintasi Jembatan Bailey. Bus penumpang, truk ekspedisi, kendaraan pengangkut hasil pertanian dan perkebunan, mobil pikap, hingga sepeda motor kembali menggunakan jalur tersebut. Para pelajar juga dapat kembali berangkat dan pulang sekolah melalui akses yang telah dipulihkan.
Kepala UPTD Workshop dan Peralatan Dinas BMCKTR Sumbar, Mitra Hengki, mengatakan pembangunan Jembatan Bailey merupakan bagian dari percepatan pemanfaatan dana TKD untuk penanganan dampak bencana sesuai arahan Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah dan Wakil Gubernur Vasko Ruseimy.
“Total anggaran pembangunan Jembatan Bailey beserta pemasangannya mencapai Rp4,9 miliar. Ini merupakan tindak lanjut atas komitmen Pemerintah Provinsi Sumatera Barat untuk mempercepat pemanfaatan dana TKD dalam penanganan bencana sehingga masyarakat dapat kembali beraktivitas secepat mungkin,” ujar Mitra Hengki.
Ia menjelaskan, Jembatan Bailey memiliki panjang 42 meter, lebar 4,2 meter, dan mampu menahan beban kendaraan hingga 15–20 ton.
Menurutnya, pembangunan pondasi tapak atau abutment menjadi pekerjaan yang paling memakan waktu. Pekerjaan tersebut dilaksanakan secara swakelola dengan anggaran sekitar Rp800 juta, sedangkan pengadaan konstruksi Jembatan Bailey menelan biaya sekitar Rp4,1 miliar.
“Perakitan jembatan dimulai pada 6 Juli dan tiga hari kemudian, tepatnya 9 Juli, sudah dapat dilalui masyarakat. Pekerjaan yang paling lama memang pada pembangunan tapak jembatan dan ditargetkan selesai seluruhnya pada awal Agustus,” jelasnya.
Mitra Hengki menegaskan, Jembatan Bailey merupakan solusi cepat untuk mengembalikan fungsi transportasi sembari menunggu pembangunan jembatan permanen yang diperkirakan membutuhkan anggaran sekitar Rp25 miliar.
“Meski bersifat sementara, Jembatan Bailey memiliki daya tahan yang cukup lama dan dapat digunakan bertahun-tahun dengan kapasitas beban hingga 15 sampai 20 ton,” katanya.
Ia menambahkan, percepatan pembangunan jembatan menjadi bukti komitmen Pemprov Sumbar dalam merespons kebutuhan masyarakat pascabencana.
“Ini membuktikan bahwa Pemprov Sumbar selalu hadir dan bergerak cepat ketika masyarakat membutuhkan,” tegasnya.
Sementara itu, Wali Nagari Taluk, Pendi Aswil, mengatakan putusnya jembatan membuat masyarakat benar-benar terisolasi selama satu setengah bulan. Seluruh aktivitas harus dialihkan melalui jalur alternatif yang lebih panjang.
Menurutnya, mayoritas masyarakat menggantungkan perekonomian pada sektor perkebunan karet dan peternakan ayam petelur. Selama akses terputus, distribusi hasil produksi mengalami kendala sehingga aktivitas ekonomi nyaris berhenti.
“Selama akses terputus, perekonomian masyarakat praktis lumpuh. Banyak pelaku UMKM memilih menutup usahanya karena aktivitas ekonomi berhenti. Sekarang setelah Jembatan Bailey dibuka, usaha masyarakat mulai berjalan kembali dan ekonomi kembali bergerak,” ujarnya.
Pendi mengapresiasi langkah cepat Pemprov Sumbar yang dinilai sigap membangun kembali akses penghubung tersebut.
Rasa syukur juga disampaikan Rela Islamiah (26), pemilik warung di sekitar lokasi jembatan. Ia mengaku usahanya kembali hidup setelah arus lalu lintas kembali normal.
“Alhamdulillah, sekarang sudah ada lagi uang yang berputar setiap hari dari hasil jualan kami. Kami sangat berterima kasih karena jembatan ini membuat masyarakat kembali bisa beraktivitas seperti biasa,” tuturnya.
Hal senada disampaikan It (60), pemilik Rumah Makan Elok Basamo. Sejak jembatan kembali difungsikan, rumah makannya mulai ramai dikunjungi pelanggan, terutama sopir truk yang melintasi jalur tersebut.
“Kami sudah buka lagi sejak jembatan beroperasi. Sopir-sopir truk yang dulu biasa singgah kini mulai kembali datang. Terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, khususnya Bapak Gubernur Mahyeldi dan Bapak Wakil Gubernur Vasko Ruseimy, karena akses ini bisa cepat dibuka kembali. Masyarakat sangat terbantu karena sekarang bisa kembali menjalankan usaha,” ungkapnya.
(adpsb/bud | MMNEWS)







