Oleh: Labai Korok
PADANG — Ada satu hal menarik yang penulis temukan ketika berkunjung ke Negeri Sembilan, Malaysia: selain arsitektur bangunannya yang sangat kental dengan nuansa Minangkabau, masyarakat di daerah ini juga memperlihatkan budaya berlalu lintas yang relatif tertib.
Hari keempat mendampingi anak yang sedang kuliah di University Malaya, penulis diajak kawan melakukan perjalanan menuju Malaka. Kebetulan, penulis yang membawa kereta—istilah yang digunakan masyarakat setempat untuk menyebut mobil.
Sepanjang perjalanan melewati kawasan permukiman Negeri Sembilan, terlihat bagaimana pengendara mematuhi rambu-rambu lalu lintas. Kendaraan dipacu dengan kecepatan yang wajar dan pengemudi tampak memperhatikan keselamatan pengguna jalan lainnya.
Ketika hendak berbelok, misalnya, pengemudi terlebih dahulu memastikan kondisi lalu lintas di belakang maupun dari arah yang berlawanan. Begitu lampu lalu lintas berubah merah, kendaraan berhenti dengan tertib di belakang garis marka yang telah ditentukan.
Pemandangan seperti ini sederhana, tetapi sesungguhnya memperlihatkan bagaimana kedisiplinan berlalu lintas menjadi bagian dari budaya berkendara.
Ruas jalan di Negeri Sembilan juga cukup beragam. Ada city car, SUV, kendaraan double cabin, hingga truk pengangkut material. Namun, berbagai jenis kendaraan tersebut tetap menggunakan jalan dengan memperhatikan aturan dan standar keselamatan.
Yang juga menarik perhatian adalah perangkat keselamatan jalan. Marka, lampu lalu lintas, rambu peringatan, hingga garis kejut berwarna kuning di sejumlah persimpangan menjadi bagian dari upaya memberikan peringatan kepada pengendara agar lebih berhati-hati.
Bagi penulis, kondisi ini menjadi sebuah pelajaran sederhana. Ketertiban berlalu lintas bukan semata-mata persoalan aturan, tetapi juga menyangkut budaya dan kesadaran bersama untuk menghargai keselamatan orang lain.
Meski demikian, Negeri Sembilan tentu tidak luput dari kekurangan. Masih ditemukan kendaraan yang parkir di tepi jalan umum, bahkan hingga menggunakan area trotoar. Hal semacam ini tentu tidak patut ditiru, termasuk oleh wisatawan yang berkesempatan mengendarai kendaraan di Malaysia.
Jejak Minangkabau di Negeri Sembilan
Ada hubungan sejarah yang panjang antara masyarakat Minangkabau dengan Negeri Sembilan. Jejak tersebut dapat dilihat dari sejarah perantauan masyarakat Minangkabau ke Semenanjung Melayu sejak sekitar abad ke-15 dan ke-16.
Negeri Sembilan kemudian dikenal sebagai salah satu wilayah yang memiliki hubungan kuat dengan masyarakat keturunan Minangkabau. Pengaruh tersebut tidak hanya terlihat dalam sistem sosial dan adat, tetapi juga sangat jelas pada arsitektur bangunan tradisionalnya.
Atap rumah yang mencuat seperti tanduk kerbau menjadi salah satu ciri yang langsung mengingatkan kita kepada rumah gadang di Ranah Minang.
Sebagian masyarakat Minangkabau di Negeri Sembilan juga memiliki asal-usul dari wilayah yang sekarang dikenal sebagai Payakumbuh, Limapuluh Kota dan Tanah Datar. Jejak asal-usul tersebut tercermin dalam nama-nama suku yang berkembang di Negeri Sembilan, seperti Biduanda, Paya Kumbuh, Batu Hampar, Tanah Datar, Seri Lamak, Mungkal, Tiga Ninik, Anak Acheh, Anak Melaka, Sri Melengkung, Batu Belang dan Tiga Batu.
Karena itu, perjalanan ke Negeri Sembilan bukan sekadar perjalanan wisata. Bagi urang Minangkabau, ada ruang untuk melihat kembali jejak sejarah dan kebudayaan yang pernah dibawa oleh para perantau ke negeri seberang.
Belajar dari Saudara Serumpun
Dari perjalanan sederhana ini, penulis melihat ada satu hal yang patut menjadi bahan renungan bagi kita di Ranah Minang.
Jika masyarakat yang memiliki akar budaya Minangkabau di Negeri Sembilan mampu membangun kebiasaan berlalu lintas yang relatif tertib, tentu masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat juga memiliki peluang yang sama.
Tertib berlalu lintas sebenarnya dimulai dari hal-hal kecil: berhenti di belakang marka, mematuhi lampu lalu lintas, memberikan kesempatan kepada pengguna jalan lain, tidak menggunakan trotoar sebagai tempat parkir dan tidak mengemudi secara arogan.
Budaya tertib tidak mengurangi kebebasan kita di jalan. Justru ketertiban membuat semua orang merasa lebih aman.
Maka, dari Negeri Sembilan kita tidak hanya melihat kemiripan rumah gadang dan jejak sejarah Minangkabau. Kita juga bisa belajar tentang kedisiplinan di jalan raya.
Semoga suatu hari nanti, ketika orang datang ke Sumatera Barat, bukan hanya keindahan alam, rumah gadang dan kulinernya yang mereka ceritakan, tetapi juga ketertiban masyarakatnya dalam berlalu lintas.
Salam dari Negeri Sembilan, saudara serumpun urang Minangkabau.
Labai Korok
Kolomnis MMNEWS







