Oleh Labai Korok
Mimbar-minangnews.com – Situasinya masyarakat terkhusus petani tidak mau memelihara ternak sapi, kerbau dalam bentuk kepemilikan keluarga karena resikonya tinggi, diantaranya dicuri atau diambil penjahat.
Masyarakat Sumatera Barat dalam keadaan trauma memelihara ternak sapi secara tradisional ke Minangkabau. Saat ini pencuri sapi, kerbau, kambing sangatlah profesional. Aksi dalam waktu 20 menit sapi, kerbau dipotong, lalu diangkut pakai mobil mpv (avanza, Inova).
Terkadang pencuri tersebut meninggalkan kepala, kaki, tulang sapi, kerbau. Sedangkan daging semuanya dibawa pergi ke pasaran.
Yang membuat peternak geleng-geleng kepala, ternak sapi, kerbau, kambing tersebut diambilnya masih dilingkungan perumahan, dikebun dekat tempat tinggal pemiliknya.
Kejadian-kejadian pencurian ternak yang bersifat sadis tersebut membuat keluarga tidak lagi mau memelihara ternak, andaikan ini dibiarkan maka program satu sapi satu petani yang digalakkan oleh Pemerintah Propinsi Sumatera Barat sudah bisa gagal.
Keengganan masyarakat Sumbar tidak memelihara ternak sapi, kerbau, kambing disebabkan juga faktor harga jual atau beli tidak jelas. Saat ini harga jual dan beli ditangan Peternakan itu tidak menguntungkan kalau dihitung secara ekonomi.
Mata rantai penjualan dan pembelian ternak sapi, kerbau di pasaran, lebih banyak dinikmati oleh agen-agen dan pedagang ternak sapi, kerbau tersebut. Sekali paacik atau rosok tali sapi dan kerbau untungnya didapat tinggi.
Jadi Penulis melihat semakin banyaknya kandang kosong milik Peternak itu disebabkan karena kebijakan Pemerintah Daerah tidak fokus terhadap permasalahan yang ada.
Untuk menghadapi permasalahan pencurian sudah mengarah merampok, permasalah mata rantai jual dan beli ternak yang merugikan petani, itu semua kewenangan dari Pemerintah Daerah dan aparat penegak hukum.
Walaupun kandang kosong peternak ini banyak ditemui di tengah masyarakat, menurut Penulis keadaan tersebut bisa dipulihkan dalam waktu cepat melalui kebijakan Pemerintah, kebijakan Dinas Peternakan yang kembali melanjutkan program satu sapi satu petani, ditambah keterlibatan aparat hukum mengamankan ternak tersebut.
Sudah saatnya kandang kosong peternak kembali di isi. Pemerintah Daerah mendorong kembali satu keluarga memiliki ternak untuk modal anaknya bisa sekolah, bisa kuliah dimasa depan. Hal ini bisa juga budaya ternak sapi, kerbau dalam keluarga tersebut dijadikan modal untuk memberi uang jemputan/uang hilang dalam perkawinan Piaman.
Kembalinya satu sapi satu petani ini bisa juga membantu Pemerintah Daerah dalam membersihkan rumput jalan. Saatnya pemerintah hemat karena rumput yang tumbuh ditepi jalan sudah diambil oleh peternak dijadikan pakan.
Budaya anak-anak “magubaloaan” ternak pun kembali hidup didalam keluarga, sehingga anak bisa juga membantu ekonomi keluarga secara tidak langsung. Hal ini membuat budaya beternak dikalangan keluarga Minang tetap hidup dari generasi ke generasi.







