Today

Candaan Merubah Lagu “Kutang Barendo”, Ulama Prihatin Lirik “Tuhan Den Paso”

Oleh Labai Korok

Seorang pencipta lagu dipastikan sudah memikirkan lirik lagu itu tidak melanggar kaedah-kaedah adat dan etika di Minangkabau. Namun ada saja ulah pendengar yang membuat candaan merobah lirik lagu.

Akhirnya lirik lagu ‘Tuhan Den Paso’ baru-baru ini menuai pro dan kontra di tengah masyarakat ulama Minangkabau.

Hal itu sejak viralnya video konser di Payakumbuh yang menyanyikan lagu ‘Tuhan Den Paso’ itu.

Bahkan sejumlah ulama dikabarkan marah terkait lirik ‘Tuhan Den Paso’ yang dinilai tidak pantas atau melanggar nilai agama Islam.

Kejadian lirik lagu di Payakumbuh ini pernah juga terjadi dengan lirik lagu tahun 90an, yaitu “kutang barendo”. Sempat pro dan kontra juga liriknya.

Pada akhirnya lagu itu dirubah liriknya menjadi “oo lalai kutang barendoo, nantimpuruang….. Tidak salah saat itu para ulama juga protes karena lirik yang terkesan artinya “kutang barendo sama dengan tuhan”.

Keresahan dan protes ulama itu wajar karena liriknya yang dirubah, situasi diacara konser yang rame orang. Diketahui lirik ‘Tuhan Den Paso’ itu sebenarnya diambil dari lirik ‘Kalau indak jodoh Tuhan nan kuoso’ dari lagu ‘Patah Bacinto Itu Biaso’ yang diplesetkan atau diganti menjadi kalimat yang menuai pro dan kontra itu.

Semua itu menjadi candaan, semua hadirin seperti mengolok-olok. Ini kan di konser berteriak Tuhan Den Paso sambil tertawa sambil mengejek lah pokoknya, kalimat itulah yang membuat umat Islam meradang dan ulama marah ini nggak baik.

Menurut Penulis pada kau muda yang nonton konser, jangan dijadikan canda nilai agama Islam, bercanda itu boleh, namun ada bercanda yang tidak dibolehkan.

Contoh candaan yang dilarang yaitu Prank Berlebihan, Candaan yang menimbulkan ketakutan, bahkan bisa menyebabkan permusuhan.

Mengolok-olok, mengejek kelemahan orang lain atau menggunakan fisik dan perbuatan mereka sebagai bahan candaan.

Membohongi orang lain untuk membuat
mereka tertawa.
Menghina Agama Islam atau mempermainkan ayat Al-Qur’an, hadis, atau ajaran Islam.

Pesan Penulis kepada pencinta lagu atau musik, janganlah lirik lagunya diubah menjadi candaan yang pada akhirnya meresahkan dan berujung kejolak sosial tercipta.