PESISIR SELATAN, MMNEWS — Wakil Gubernur Sumatera Barat, Vasko Ruseimy, mendorong penguatan literasi demokrasi dan pendidikan politik masyarakat secara berkelanjutan sebagai langkah strategis meningkatkan kualitas serta partisipasi pemilih menghadapi Pemilu 2029.
Dorongan tersebut disampaikan Vasko saat menjadi narasumber dalam kegiatan Sosialisasi Pendidikan Pemilih Berkelanjutan Tahun 2026 yang digelar Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Sumatera Barat di Aula UPTD Pelabuhan Perikanan Wilayah I Carocok Painan, Kabupaten Pesisir Selatan, Sabtu (12/9/2026).
Menurut Vasko, demokrasi tidak boleh dimaknai sebatas aktivitas datang ke tempat pemungutan suara (TPS) dan mencoblos. Lebih dari itu, masyarakat perlu memahami sistem demokrasi, proses Pemilu dan Pilkada, serta dampak dari setiap pilihan politik yang diambil.
“Yang kita harapkan bukan hanya masyarakat datang ke TPS dan menggunakan hak pilih, tetapi juga memahami mengapa mereka memilih dan apa konsekuensi dari pilihan tersebut,” ujar Vasko.
Pendidikan Politik Harus Berkelanjutan
Vasko menegaskan, pendidikan politik dan literasi demokrasi harus dilaksanakan secara konsisten, bukan hanya menjelang pelaksanaan Pemilu atau Pilkada. Edukasi yang berkesinambungan dinilai penting untuk membentuk pemilih yang rasional, kritis, mandiri, dan bertanggung jawab.
Ia juga menyoroti kecenderungan tingkat partisipasi masyarakat dalam Pilkada yang lebih rendah dibandingkan Pemilu Presiden. Kondisi tersebut, menurutnya, perlu dijawab melalui pendekatan yang lebih dekat dengan masyarakat, antara lain dialog publik, edukasi politik, serta pelibatan tokoh masyarakat dan berbagai elemen sosial.
“Ini menjadi tanggung jawab bersama. Pemerintah, penyelenggara Pemilu, tokoh masyarakat, dunia pendidikan, organisasi kemasyarakatan, dan seluruh elemen masyarakat perlu mengambil peran dalam membangun budaya demokrasi yang sehat,” katanya.
KPU Soroti Tantangan Partisipasi Pemilih Sumbar
Sementara itu, Anggota KPU RI, Dr. Betty Epsilon Idroos, menyampaikan bahwa pendidikan pemilih semakin penting seiring persiapan menuju Pemilu 2029 yang akan dilakukan secara bertahap mulai 2027.
Betty mengungkapkan, tingkat partisipasi pemilih di Sumatera Barat pada Pilkada 2024 masih berada di kisaran 57 persen, sementara rata-rata nasional mencapai sekitar 71,39 persen. Angka tersebut menjadi tantangan yang harus dijawab melalui strategi pendidikan pemilih yang lebih intensif, terarah, dan berkelanjutan.
“Pemilih kita didominasi Generasi Milenial dan Generasi Z yang jumlahnya hampir 60 persen. Karena itu, pendekatan pendidikan pemilih juga harus mampu menjangkau dan sesuai dengan karakter generasi muda,” jelasnya.
Ia menambahkan, hasil Pemilu memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan masyarakat karena turut menentukan arah kebijakan publik, pembangunan, pelayanan publik, pendidikan, kesehatan, hingga penciptaan lapangan kerja.
Oleh sebab itu, masyarakat perlu memahami pentingnya menggunakan hak pilih secara sadar, cerdas, dan bertanggung jawab.
Dorong Pemilu Inklusif di Era Digital
Selain menyasar generasi muda, KPU juga mendorong penguatan penyelenggaraan Pemilu yang inklusif. Akses terhadap informasi dan layanan kepemiluan harus dapat dinikmati seluruh masyarakat, termasuk kelompok rentan dan penyandang disabilitas.
Pemanfaatan teknologi juga terus dikembangkan sebagai sarana edukasi dan simulasi kepemiluan. Langkah ini diharapkan mampu memperluas jangkauan informasi sekaligus meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap proses demokrasi di tengah perkembangan era digital.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Ketua dan Anggota KPU Provinsi Sumatera Barat, Kepala Badan Kesbangpol Provinsi Sumbar Mursalim, Ketua dan Anggota KPU Kabupaten Pesisir Selatan, Camat Koto XI Tarusan, serta sejumlah tokoh masyarakat setempat.
(adpsb/bud)
MMNEWS — Mimbar-MinangNews.com
Inspirasi • Aksi • Dampak







