Today

Bencana Galodo Jangan Dijadikan Tempat Wisata, Pemerintah Sumbar Bekerja

Bagindo Yohanes Wempi

Tingginya antosias masyarakat umum melihat bencana banjir/galodo yang terjadi di Sumatra Barat berakibat sulitnya relawan membantu korban, ini menjadi permasalah yang perlu diingatkan.

Kejadian tingginya kunjungan masyarakat itu memberikan kesan tempat bencana tersebut seperti ajang wisata baru, ini dapat dilihat dari prilaku mereka yang hadir.

Dilokasi hanya berfoto-foto, ambil video, lalu buat status terbaru dimedsos baik di Facebook, di Instagram, di TikTok dan lainnya, bencana jadi ajang wisata, bukan saling membantu.

Wisata bencana adalah topik perdebatan yang sangat pelik, ada yang sinis dan ada yang simpatik membahasnya. Namun apa pun tanggapannya, respon terjadi maka ini perlu ada pencerdasan agar wisata bencana tidak terjadi.

Minangkabau sudah mengajarkan bahwa alek baik bahimbawan, alek buruak bahambawan artinya ketika bencana terjadi maka semua orang harus respon dengan cepat, terkhusus pejabat pemerintah atau kepala daerah.

Namun respon cepat ini terkhusus masyarakat perlu ada etika-etika yang perlu diketahui dan dilakukan, jangan respon cepat itu berubah menjadi prinsip-prinsip prilaku wisata bencana karena tidak ada yang bisa dilaksanakan.

Tentu ada dimensi etika yang patut untuk dipertimbangkan ketika hadir dilokasi bencana, apakah tindak “menonton” bencana adalah hal yang etis untuk dilakukan dan menghormati warga terdampak?.

Tapi pada dasarnya diyakini yang terdampak akan merasa tidak nyaman, yang datang ke lokasi hanya sekedar foto-foto, ambil video, ngobrol, dan lalu pergi lagi.

Himbawan kepada masyarakat yang tidak berkepentingan, tidak berdampak sebagai korban mungkin tinggal di luar area bencana, kalau datang ke daerah bencana untuk membantu silahkan. Itu diharapkan.

Sekarang era sudah canggih, susah digitalisasi, semua bisa dilakukan tanpa kelokasi bencana. Bagi pihak yang membantu, baiknya membantu melalui posko terpusat yang dibuat oleh Gubernur Sumbar.

Saya dalam uraian ini mohon tempat bencana tidak dijadikan sebagai tempat wisata. Jika berkunjung ke tempat galodo/banjir, berakibat membikin jalan-jalan menjadi macet. Itu mengganggu mobilisasi penyaluran bantuan yang kita lakukan.

Stop jadikan bencana sebagai arena wisata yang menghambat Pemerintah Provinsi bekerja menyelamatkan masyarakat yang terdampak bencana.