Oleh Bima Zulfa
(Alumni Fakultas Hukum Universitas Ekasakti)
“Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali.”
— Tan Malaka
Ungkapan tajam dari Tan Malaka ini bukan sekadar sindiran, melainkan kritik mendalam terhadap sistem pendidikan yang melahirkan individu-individu cerdas, tetapi tidak membumi. Pendidikan, menurut Tan, bisa menjadi pedang bermata dua: ia bisa membela, tapi juga bisa melukai jika tidak disertai dengan nilai etika yang kuat.
Realitas sosial kita hari ini membuktikan kebenaran pernyataan tersebut. Masyarakat kita bertabur orang-orang berpendidikan tinggi, bergelar akademik, namun sayangnya tidak sedikit di antara mereka yang justru terlibat dalam tindakan tidak bermoral, bahkan kriminal. Tindakan yang seharusnya menjadi cerminan dari ilmu dan kebijaksanaan, malah menjelma menjadi arogansi dan penyimpangan.
Berbagai kasus kekerasan dan pelecehan seksual di dunia pendidikan, penyalahgunaan wewenang di sektor kesehatan, hingga korupsi di lingkup birokrasi, menunjukkan bahwa pendidikan tinggi tidak menjamin kualitas moral. Banyak orang yang menyandang titel sarjana, magister, bahkan doktor, namun abai terhadap etika dan tanggung jawab sosial.
Pernyataan masyarakat pun bermunculan: “Begitulah jadinya jika pendidikan tidak disertai etika.” Dari sinilah muncul pertanyaan mendasar: apakah hubungan antara pendidikan dan etika memang begitu renggang? Ataukah justru keduanya adalah satu kesatuan yang selama ini dipisahkan oleh sistem?
Pendidikan dan etika sejatinya adalah dua unsur yang tidak bisa dipisahkan. Pendidikan seharusnya bukan hanya proses transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga proses pembentukan karakter. Keterikatan antara keduanya akan melahirkan pribadi yang utuh—yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga bijak secara moral.
Kita sering dihadapkan pada dua tipe manusia dalam menyelesaikan masalah: mereka yang mengandalkan pendekatan teknis dan mereka yang mengedepankan pendekatan emosional. Penyelesaian secara teknis biasanya dilakukan oleh orang berpendidikan, dengan cara logis, sistematis, dan berbasis data. Sedangkan pendekatan emosional lebih sering digunakan oleh orang yang beretika, dengan cara memahami perasaan, menjaga nilai, dan mengutamakan kemanusiaan.
Kedua pendekatan ini penting. Keduanya memberi kontribusi dalam penyelesaian konflik dan dinamika sosial. Namun, tanpa keseimbangan antara logika dan moral, manusia bisa kehilangan arah. Ketika pendidikan berjalan tanpa etika, lahirlah kecerdasan yang manipulatif. Sebaliknya, etika tanpa pendidikan bisa membatasi potensi seseorang untuk berkontribusi lebih luas dalam masyarakat.
Lalu, mengapa masih banyak pelanggaran yang dilakukan oleh orang-orang yang justru memiliki privilese pendidikan tinggi? Kita bisa melihat dua kelompok pelaku pelanggaran dalam masyarakat: pertama, mereka yang cukup cerdas untuk menemukan celah hukum dan menyalahgunakannya; kedua, mereka yang karena ketidaktahuan dan keterbatasan ilmu, akhirnya melanggar tanpa sadar.
Dari sini kita kembali pada akar permasalahan: bukan semata soal pendidikan atau etika, tetapi soal keselarasan antara keduanya. Persoalannya muncul ketika pendidikan hanya fokus pada aspek kognitif, pada kemampuan berpikir dan analisis, namun abai terhadap pembentukan karakter. Inilah yang menyebabkan orang-orang terpelajar justru menjadi aktor dalam banyak kasus penyimpangan.
Ambil contoh di dunia kesehatan, ketika tenaga medis yang seharusnya memberikan pelayanan dan harapan malah menjadi pelaku pelecehan seksual. Ini bukan karena mereka kurang pendidikan, tetapi karena hilangnya etika sebagai penuntun moral. Mereka tidak mampu membedakan mana yang benar dan salah, serta kehilangan tanggung jawab terhadap ilmu yang mereka pelajari.
Sebaliknya, mereka yang tidak mengenyam pendidikan tinggi pun bisa terjebak dalam pelanggaran. Karena tidak memiliki pengetahuan yang cukup, mereka tidak mampu memenuhi kompetensi kehidupan modern, sehingga pelanggaran menjadi hal yang dianggap lumrah dalam lingkungan mereka.
Namun pembahasan ini tidak lengkap jika kita hanya menyoroti pertikaian antara pendidikan dan etika. Yang lebih penting adalah menegaskan bahwa pendidikan yang ideal seharusnya mencakup nilai-nilai moral dan pembentukan karakter. Pendidikan yang baik tidak hanya menghasilkan orang cerdas, tetapi juga manusia yang memiliki empati, integritas, dan tanggung jawab sosial.
Jika pendidikan dan etika berjalan beriringan, maka kekhawatiran Tan Malaka bahwa pendidikan bisa menjadi senjata tajam tidak lagi relevan. Sebab, anak muda yang berpendidikan tidak akan menjauh dari masyarakat yang bekerja dengan cangkul. Sebaliknya, mereka akan bergandeng tangan—menggunakan ilmu dan teknologi untuk membantu, memberdayakan, dan menghormati pengalaman hidup masyarakat yang sederhana.
Begitu juga sebaliknya, masyarakat yang bekerja dengan peluh dan kesederhanaan bisa menjadi pengingat nilai-nilai luhur yang sering kali terabaikan dalam ruang-ruang akademik. Dari sinilah, kolaborasi antara ilmu dan nurani menjadi mungkin. Kita butuh generasi yang tidak hanya menguasai teori, tetapi juga menghayati nilai. Generasi yang bukan hanya ingin pintar, tapi juga ingin bermakna. []








