Today

Budaya Urang Marando, Putaran Hidup Laki-Laki Piaman

Oleh Labai Korok

Marando diberikan istilah kepada laki-laki Piaman yang tidak memiliki pasangan/istri dikarenakan belum dapat jodoh atau ditinggalkan pasangan/Istrinya dengan bermacam alasan akhirnya berpisah.

Marando di Piaman memiliki budaya tersendiri yang perlu diberikan ilmunya kepada generasi milenial, gen z dan gen-gen lainnya. Harapan Penulis tentu budaya Marando laki laki Piaman ini bisa dilestarikan dan dipertahankan dalam nilai-nilai indahnya dalam dikehidupan ini.

Setiap laki-laki di Piaman tidak punya pasangan maka kehidupan sosialnya akan terikat dengan kemenakan sebagai tempat berteduh atau tempat pertolongan, itupun andaikan kemenakan sayang, disaat hidup punya pasangan/istri sudah bisa membagi, dengan istilah “anak dipangku, kemenakan dibimbing”.

Artinya urang Marando di Piaman itu budaya hidup bagian dari kemenakan atau dirumah urang tuo sebagai sandaran beraktivitas, dan pasti akan melakoni kehidupan di lapau dan di surau sampai ada seorang perempuan menjemputnya.

Urang Marando yang sejahtera itu memiliki penghasilan atau memiliki tabungan yang cukup ketika hidup sendirian, sedangkan kemenakan tempat menonompang, namun sudah diawali kedekatannya semasa masih hidup berpasangan/beristri.

Seperti semasa hidup belum Marando, dimana laki-laki Piaman sudah selalu ingat dengan kemenakan dengan sering membantu kemenakan kesulitan, setiap waktu selalu hadir ditengah kemenakan dalam kondisi ada alek baik (pesta, syukuran, acara heppy lainya), maupun tetap hadir di acara alek buruak yaitu kemenakan dapat musibah kematian, musibah sakit dan lainnya.

Kedekatan Laki-Laki Piaman tidak ada batasnya dengan kemenakan, sehingga disaat datang waktunya laki-laki Piaman itu Marando, ada pihak kemenakan tempat berlabuh.

Urang Marando yang punya iman (taat beribadah) biasanya memiliki budaya tersendiri yaitu tinggal dan beraktivitas disurau, sedangkan urang Marando yang masih cinta dunia akan hidup di lapau dalam kesehariannya, terkadang tidurnya disurau dan di lapau.

Sepengetahuan Penulis budaya urang Marando dipengaruhi dua tempat itu yaitu lapau dan surau. Dalam kehidupan urang Marando itu, lapau tempat sentral, bisa dijadikan tempat meletakan pakaian atau tempat tidur, jika lapau ada korok nya. Andaikan urang Marando itu sudah kuat imannya, sudah takana jalan kapulang maka aktivitasnya dipastikan disurau kaum/suku.

Bagi laki-laki Piaman yang tidak tahu budaya Marando yang baik, maka tulisan ini sangat bisa membantu, bisa dijadikan referensi, andaikan istri/pasangan laki-laki Piaman meninggal atau pelabuhan meninggalkan kapal, bisa juga kandang nyo baluluak, maka dianjurkan bagi laki-laki Piaman Marando hiduplah disurau.

Kemenakan pun sangat senang mengantar nasi atau ransum kesurau untuk mamak atau urang laki-laki nan Marando tersebut. Barang tentu tujuan urang Marando tinggal disurau adalah bisa dekat dengan Allah SWT, mana tahu ada perempuan yang tertarik untuk menjadi junjungan dikarenakan laki-laki Piaman selalu berada disurau.