Oleh Labai Korok Piaman
Seorang tokoh Padang menulis, bahwa memilih Kepala Daerah itu diukur dari Gagasan dan pemikirannya saja, secara pribadi Penulis tidak mengamini teori itu karena tidak cukup hal itu saja jadi tolak ukur, gagasan, pemikiran bisa dibantu tim konsultan.
Menurut Penulis menentukan pilihan siapa calon Kepala Daerah di Sumatra Barat yang layak harus sama cara menentukan pilihan mencari urang sumando atau menantu di Piaman, Minangkabau.
Mengapa seperti memilih urang sumando atau calon menantu Minang karena kita selaku andai tolan akan merasakan makan tangan, kemampuan mengelola kehidupan rumah tangga dalam masa kedepannya.
Andai bersandar pada gagasan dan pemikiran menurut Penulis Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatra Barat yang bagus semua itu adalah Mahyeldi-Vasko, gagasan mereka yang realistis, dimana Vasko adalah kader presiden terpilih Prabowo Subianto.
Jika mekanisme sistim imferatif dipakai saat ini maka gagasan yang dibuat dalam visi misi dan program unggulan sangat realistis terwujud Mahyeldi-Vasko, ini disebabkan Partai Gerindra merupakan partai Presiden terpilih RI.
Secara pribadi Penulis perlu sampaikan kepada pembaca bahwa memilih Kepala Daerah di Minang harus memakai tolak ukur nilai kampung Minang, tolak ukur seperti memilih minantu atau urang sumando.
Seorang yang akan dipilih jadi menantu yaitu lihat sosok orang yang beriman dan islam atau sudah mendeklarasikan diri sebagai orang Islam, nah kehidupanya selalu diselimuti tampilan islami seperti tidak bacaruik, tidak berkata kasar, tidak marah emosi tampa sebab dan lainnya.
Yang akan dijadikan menantu orang yang berbangsa, merdeka, tidak anak zina, tidak pula anak syubhat, tak tentu halal haramnya. Orang berbangsa artinya jelas suku dan kaumnya (asal keluarga).
Sementara frasa anak zina, anak syubhat, tak tentu halal haramnya menunjukkan kejelasan keturunan (nasab). Nasab penting dalam adat alam Minangkabau, agar jelas jika beradat dapat menerima sako dan pusako dari kaumnya dan jika berbako, sebagai anak pisang siapa dia.
Selanjutnya orang yang baik laku perangainya. Dalam buku Haji Rasul tidak memberi penjelasan yang panjang tentang syarat ini. Mungkin sekira-kira sudah dipahami oleh orang Minangkabau, sudah jelaslah siang bak hari lah tarang bak bulan, seperti tidak membuat hotel tempat nanti anaknya berbuat zina akhirnya diperas dan masuk pengadilan.
Serta banyak syarat lain yang dijadikan standar seseorang itu akan dijadikan urang sumando dan manantu dirumah gadang.
Begitu juga dengan penentu kepala daerah yang akan dipilih nantinya ditengah masyarakat harus diperjelas standar alasan dipilih, tentu pilihan yang tepat itu adalah Mahyeldi sudah teruji selama ini sebagai Gubernur Sumatra Barat.








