Menjaga Identitas, Merawat Tradisi di Tanah Rantau
Oleh: Labai Korok | Opini — MMNEWS
KUALA LUMPUR — Setibanya di Bandar Udara Internasional Kuala Lumpur, orang pertama yang saya hubungi adalah kawan sejawat semasa sekolah menengah pertama. Ia sudah berkeluarga dan menetap di Malaysia. Karena kami sama-sama besar dan sejak kecil terbiasa bergurau, suasana pertemuan pun terasa akrab. Tanpa banyak basa-basi, ia langsung menjemput saya di bandara dan mengajak makan sate Padang di Kampung Pandan.
Sepanjang perjalanan, kami banyak bercerita tentang kehidupan masyarakat di Malaysia, khususnya perkembangan pendidikan di Kuala Lumpur. Dari percakapan itulah saya semakin memahami bagaimana masyarakat perantauan Minangkabau, termasuk orang Piaman, membangun kehidupan di negeri jiran.
Kawan saya mengatakan, saya patut bersyukur karena anak saya mendapat kesempatan menempuh pendidikan di Universiti Malaya (UM). Ia bercerita tentang reputasi UM sebagai salah satu perguruan tinggi terkemuka di kawasan Asia Tenggara dan dunia.
Bagi saya, kesempatan tersebut bukan sekadar soal pendidikan. Ada rasa syukur dan kebanggaan tersendiri ketika anak Minang, khususnya dari ranah Piaman, bisa menimba ilmu di salah satu kampus ternama di Malaysia.
Kawan saya bahkan sempat bergurau, “Anak Rektor Universitas Andalas saja pernah kuliah di sini.” Saya hanya tersenyum dan mengucapkan Alhamdulillah. Pendidikan memang menjadi salah satu jalan penting bagi generasi muda untuk membuka cakrawala dan membangun masa depan.
Piaman di Tanah Rantau
Berbicara tentang Malaysia, tentu tidak lengkap tanpa membicarakan komunitas Minangkabau yang telah lama hidup dan berkembang di negeri ini. Salah satu kelompok yang dikenal luas adalah orang Piaman, sebutan khas bagi masyarakat asal Padang Pariaman, Sumatera Barat.
Di tanah rantau, orang Piaman tidak hanya hadir sebagai pendatang. Mereka telah menjadi bagian dari dinamika kehidupan masyarakat Malaysia. Berbagai bidang kehidupan telah mereka isi, mulai dari perdagangan, kuliner, pendidikan, kebudayaan hingga kegiatan sosial.
Namun, hidup jauh dari kampung halaman bukan berarti harus kehilangan identitas.
Di tengah kehidupan masyarakat Malaysia, sebagian komunitas Piaman masih mempertahankan bahasa, tradisi kekeluargaan dan nilai-nilai adat yang diwariskan dari generasi ke generasi. Bahasa Minang dengan dialek Pariaman masih terdengar dalam percakapan sesama komunitas.
Begitu pula dengan penghormatan terhadap struktur adat dan gelar seperti Sidi, Bagindo dan Sutan, yang bagi sebagian masyarakat Piaman tetap menjadi bagian dari identitas kultural dan sejarah keluarga.
Inilah menariknya kehidupan perantau: seseorang dapat beradaptasi dengan lingkungan baru tanpa harus menghapus akar budaya yang membentuk dirinya.
Dari Kuliner hingga Dunia Usaha
Semangat merantau juga terlihat dari aktivitas ekonomi masyarakat Piaman di Malaysia. Sebagian bergerak dalam usaha kuliner dengan membuka kedai makanan khas Minang, rumah makan Padang dan berbagai usaha makanan lainnya.
Di sektor perdagangan, masyarakat perantauan juga menjalankan berbagai usaha, mulai dari pakaian, kain, kebutuhan sehari-hari hingga perdagangan di pasar tradisional dan kawasan niaga.
Semangat kewirausahaan tersebut menjadi salah satu modal penting dalam membangun kehidupan di tanah rantau.
Namun, kontribusi masyarakat Piaman tidak hanya dapat diukur dari sisi ekonomi. Ada pula mereka yang bergerak dalam pelestarian seni dan budaya.
Salah satunya adalah Ajoo Muh, yang disebut memiliki perhatian terhadap pengembangan silat Piaman di Malaysia. Upaya membawa silat dan kebudayaan Minangkabau ke lingkungan kampus maupun sekolah menjadi contoh bahwa tradisi dapat terus hidup ketika ada generasi yang bersedia merawat dan mengenalkannya kepada masyarakat luas.
Rantau Bukan Berarti Melupakan Ranah
Bagi saya, perjalanan ke Malaysia dan melihat kehidupan orang Piaman di sini memberikan sebuah pelajaran sederhana: merantau bukan berarti melupakan ranah.
Justru di tanah rantau, identitas sering kali menjadi sesuatu yang semakin terasa penting. Bahasa, makanan, adat, silat, hubungan kekeluargaan dan kebiasaan saling membantu menjadi jembatan yang menghubungkan perantau dengan kampung halaman.
Orang Piaman di Malaysia telah menjadi bagian dari masyarakat setempat. Mereka hidup, bekerja, belajar, berdagang dan membangun keluarga di negeri ini. Pada saat yang sama, sebagian dari mereka tetap membawa nilai-nilai yang berasal dari kampung halaman.
Universiti Malaya bagi saya bukan hanya sebuah kampus tempat anak menuntut ilmu. Perjalanan ini juga menjadi ruang untuk melihat lebih dekat bagaimana anak-anak Minang, khususnya orang Piaman, menjalani kehidupan di rantau.
Dari Piaman ke Kuala Lumpur, dari ranah ke rantau, satu pesan tetap sama: ilmu boleh dicari sejauh mungkin, tetapi akar budaya jangan sampai hilang.
— Labai Korok
Opini | MMNEWS







