
Oleh: Advokat Ki Jal Atri Tanjung, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Barat
Padang — Krisis iklim kini bukan lagi sekadar ancaman masa depan, melainkan kenyataan yang sedang dihadapi umat manusia. Perubahan iklim global telah mencapai titik kritis yang berdampak serius terhadap lingkungan, kesehatan, dan keberlangsungan hidup manusia. Hal ini disampaikan Advokat Ki Jal Atri Tanjung, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Barat, dalam pemaparannya mengenai pentingnya dakwah ekologis sebagai respons atas krisis iklim yang kian mengkhawatirkan.
Menurut Ki Jal Atri Tanjung, kritis iklim adalah kondisi ketika perubahan iklim telah melampaui batas aman dan menimbulkan dampak yang sulit dipulihkan.
Salah satu indikator paling nyata adalah rusaknya ekosistem terumbu karang air hangat. Sejak Januari 2023, dunia menyaksikan peristiwa pemutihan terumbu karang secara global yang memengaruhi lebih dari 80 persen terumbu karang di lebih dari 80 negara. Kondisi ini mengancam keanekaragaman hayati laut serta penghidupan ratusan juta masyarakat pesisir yang bergantung pada ekosistem tersebut.
Selain itu, kenaikan permukaan laut menjadi ancaman serius bagi wilayah pesisir. Banjir rob, erosi pantai, hingga tenggelamnya permukiman pesisir berpotensi terjadi secara masif apabila tidak ada langkah mitigasi yang tepat. Perubahan cuaca ekstrem seperti gelombang panas berkepanjangan, kekeringan, dan banjir besar juga semakin sering terjadi, menimbulkan kerugian ekonomi dan sosial yang signifikan.
Dampak krisis iklim juga merambah sektor kesehatan. Perubahan pola cuaca dan lingkungan meningkatkan risiko penyebaran penyakit berbasis lingkungan, seperti demam berdarah, malaria, serta penyakit yang ditularkan melalui air. Kondisi ini semakin mempertegas bahwa krisis iklim bukan hanya isu lingkungan, tetapi juga persoalan kemanusiaan.
Dalam menghadapi situasi tersebut, Ki Jal Atri Tanjung menekankan pentingnya langkah-langkah konkret dan terukur. Upaya pengurangan emisi gas rumah kaca harus dilakukan secara serius dan berkelanjutan. Selain itu, penggunaan energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin perlu ditingkatkan untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Perlindungan terumbu karang dan ekosistem laut lainnya juga menjadi keharusan demi menjaga keseimbangan alam dan keberlangsungan hidup generasi mendatang.
Lebih jauh, ia menyoroti peran strategis dakwah ekologis sebagai bagian dari gerakan keagamaan yang berorientasi pada pelestarian lingkungan. Dakwah ekologis, menurutnya, tidak cukup hanya berupa wacana moral dan seruan normatif. Diperlukan program yang konkret, terencana, serta didukung oleh pembiayaan yang memadai agar gerakan ini dapat berjalan efektif dan berkelanjutan.
“Tanpa program kegiatan yang nyata dan dukungan anggaran yang cukup, dakwah ekologis akan sulit diwujudkan dan keberhasilannya pun tidak akan optimal,” tegasnya.
Melalui peran organisasi keagamaan seperti Muhammadiyah, Ki Jal Atri Tanjung berharap kesadaran ekologis dapat ditanamkan secara luas kepada masyarakat. Dengan mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dan kepedulian lingkungan, diharapkan lahir gerakan kolektif yang mampu merespons krisis iklim secara nyata dan bertanggung jawab.
Ia menutup pernyataannya dengan ajakan kepada seluruh elemen masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan berperan aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan sebagai bagian dari amanah kemanusiaan dan keimanan.






