Oleh Labai Korok
Selamat kepada adik-adik Paskibraka se-Indonesia yang telah selesai melaksanakan tugas mengibarkan bendera pusaka merah putih dan sore harinya tanggal 17 Agustus 2025 juga sudah bertugas menurunkan bendera merah putih tersebut.
Apresiasi positif disampaikan kepada pasukan pengibar bendera pusaka tersebut, pengalaman Penulis mengibarkan bendera merah putih itu, bentuknya saja sederhana atau simpel tapi Penulis yang sudah merasakan, sangat lah berat dan penuh tekana kejiwaan, semua harus sukses sesuai latihan.
Pengalaman Penulis saat jadi anggota Paskibraka ini banyak hikmah yang bisa diambil, bisa dituliskan, Kita dahulu saat latihan tidak diberikan baju kaos dan celana olahraga seragam (pakaian), Kita masing-masing anggota memakai pakaian asal sekolah, disini nampak posisi diskriminasi atau tidak selevel.
Penulis pada waktu itu tinggal kos di Pasie Piaman, tahulah pembaca anak kosan tahun 90an, terkadang makan pagi, terkadang tidak, karena Paskibraka ini tidak dimasukan ke pusat latihan atau di tidak di inapkan maka nasib ana kosan, terkadang pagi latihan tidak ada makan sarapan, selesai latihan terpaksa cari ransum gizi tersendiri.
Ada salah satu anggota (kawan Kita) karena tidak ada bekal yang dimakan di kostnya, akhirnya pinsan (sakit) karena tidak ransum masuk.
Namun walaupun begitu keadaannya, kesemua anggota pasukan Paskibraka zaman Penulis itu semangat latihan tiap hari, selama satu bulan setengah full, kondisi serba terbatas.
Seandainya diceritakan secara rinci, bisa satu buku, pengalaman saat itu banyak suka, duka Penulis jadi pasukan pengibar bendera itu. Disaat mendekati tanggal 17 Agustus, upacara akan dimulai kostum yang diberikan oleh panitia hanya celana, baju, skraf dan pin dikupiah, itupun tidak diukur, baju dimuat masal akhirnya celana Penulis kendor (lihat difoto).
Disini masalahnya, sepatu, kaus kaki, sarung tangan tidak diberikan, Penulis karena tidak ada sepatu hitam terpaksa pinjam sama teman sekolah di pelayanan Pariaman.
Ada teman karena susah mendapatkan sepatu akhirnya sepatu dicat pakai warna pilot, saat ditanya “kok dicat saja”, jawabanya “sepatu ini hanya sekali dipakai, kalau dibeli mahal”.
Penulis seking pusingnya mencari peralatan, kelengkapan itu karena keterbatasan ekonomi orang tua, pernah orang tua menyuruh mudur, dak usah jadi pasukan pengibar bendera merah putih itu. Bikin susah saja.
Alhamdulillah karena Penulis punya teman, akhirnya bisa meminjam semua peralatan dan perlengkapan tersebut. Saat pelaksanaan tugas saat upacara berlangsung, semua berjalan dengan sukses dan lancar.
Pengalaman Penulis yang tidak akan pernah terulang lagi dan akan menjadi kenangan bahwa menjadi Paskibraka tersebut suatu kebanggaan tersendiri.
Lain dahulu, lain sekarang, Paskibraka saat ini sudah mendapatkan proses pelatihan dan persiapan sempurna, semua kebutuhan ditanggung negara. Apalagi Kepala Daerah atau Kepala Dinas menangani Paskibraka ini orangnya perfect atau sosok pejabat pelayanan, makin makmur tim tersebut.
Kalau tidak salah semua kelengkapan dipenuhi, semua adik-adik itu dimasukan ke penginapan, makan diatur, istirahat diatur, kebutuhan disediakan, keluhan seperti yang terjadi di era 1997 tersebut tidak akan terulang.
Malah saat ini, keluarga (orang tua) dihadir juga saat pelantikan atau pengukuhan Paskibraka oleh Kepala Daerah. Mereka juga di beri fasilitasi oleh Pemerintah.
Saat ini semua sudah serba sempurna pengelolaan Paskibraka oleh panitia dinas, semua terlindungi, kalau tidak salah pasukan pengibar bendera merah putih ini juga diberi asuransi, untuk keselamatan disaat bertugas.
Satu hal pengalaman Penulis yang tidak pernah terlupakan sampai hari ini, disaat upacara penurunan bendera merah putih, kondisi hari hujan, sepatu yang Penulis pinjam itu robek, akhirnya terpaksa mengganti, karena milik orang. Lama juga diganti, menunggu uang pengantin ada.
Begitu lah lika liku jadi Paskibraka tahun 1997 di Kantor Bupati Padang Pariaman, saat ini Penulis masih punya foto, dokumen sebagai bukti pernah terlibat Paskibraka tersebut. Selamat Hari Kemerdekaan.








