Today

Irman Gusman di HUT ke-70 Abraham Paul Liyanto: Warisan Terbesar Adalah Manfaat bagi Sesama

KUPANG, MMNEWS – Senator Republik Indonesia asal Sumatera Barat, Irman Gusman, menegaskan bahwa warisan terbesar seseorang bukanlah jabatan, kekayaan, ataupun pencapaian pribadi, melainkan manfaat nyata yang terus dirasakan masyarakat. Pengabdian yang menghadirkan perubahan bagi kehidupan orang lain, menurutnya, akan tetap bermakna jauh melampaui usia dan masa jabatan.

Pesan tersebut disampaikan Irman Gusman dalam acara peluncuran buku biografi Diberkati untuk Memberkati, yang digelar untuk memperingati ulang tahun ke-70 sahabatnya, Senator Abraham Paul Liyanto, di Universitas Citra Bangsa (UCB), Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (24/10/2026).

Dalam sambutannya, Irman mengangkat perjalanan hidup Abraham sebagai gambaran tentang perjuangan, ketekunan, dan keberhasilan mengubah keterbatasan menjadi kekuatan untuk membangun masa depan.

Berasal dari keluarga sederhana di Kuanino pada era 1970-an, Abraham muda harus bekerja keras untuk membiayai pendidikan dan kehidupannya. Ia pernah berjualan kue, minyak tanah, dan rokok ketengan, memikul drum air, hingga terlibat langsung dalam proyek pembangunan ketika masih berstatus mahasiswa.

Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang Abraham hingga dikenal sebagai tokoh yang turut berkontribusi bagi pembangunan NTT.

“Perjalanan hidup Abraham mengajarkan kita bahwa keterbatasan bukanlah akhir dari cita-cita. Yang menentukan adalah kemauan untuk terus berjuang, membangun diri, dan menggunakan keberhasilan itu untuk membantu orang lain,” ujar Irman, mantan Ketua DPD RI periode 2009–2016.

Pembangunan Harus Berkeadilan, Tidak Boleh Ada Daerah yang Tertinggal

Selain menyoroti perjalanan hidup sahabatnya, Irman menekankan pentingnya pemerataan pembangunan dan keadilan antarwilayah. Menurutnya, kemajuan Indonesia tidak boleh hanya terkonsentrasi di daerah tertentu, sementara wilayah lain masih menghadapi keterbatasan kesempatan dan pelayanan dasar.

“Pembangunan tidak boleh menganakemaskan satu daerah dan menganaktirikan daerah lain. Setiap wilayah berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk maju,” tegasnya.

Prinsip pemerataan tersebut, lanjut Irman, menjadi salah satu landasan ketika dirinya memimpin DPD RI pada periode 2009–2016 dan mendorong pembangunan kantor perwakilan DPD RI di tiga wilayah Indonesia.

Kupang dipilih sebagai salah satu lokasi yang mewakili kawasan timur Indonesia. Perjuangan Abraham Paul Liyanto turut menjadi bagian dari latar belakang upaya tersebut. Peletakan batu pertama pembangunan kantor perwakilan itu dilaksanakan pada 15 Juni 2011.

Bagi Irman, pemerataan pembangunan bukan sekadar persoalan menghadirkan infrastruktur, melainkan memastikan masyarakat di setiap daerah memiliki akses terhadap pendidikan, pekerjaan, keterampilan, dan pelayanan kesehatan yang layak.

Persahabatan yang Tumbuh dari Dunia Usaha hingga Senayan

Persahabatan Irman Gusman dan Abraham Paul Liyanto telah terjalin sejak keduanya berkecimpung di dunia usaha melalui Kamar Dagang dan Industri (Kadin), sebelum kemudian sama-sama berkiprah di Senayan.

Dari perjalanan tersebut, Abraham dinilai merepresentasikan sosok entrepreneurial senator—figur senator berlatar belakang kewirausahaan yang berupaya menerjemahkan gagasan menjadi peluang nyata bagi kemajuan daerah, baik di tingkat nasional maupun melalui berbagai forum internasional.

Irman, yang juga menjabat Ketua Dewan Pakar Bidang Ekonomi dan UMKM PP Muhammadiyah, menilai keberhasilan seorang tokoh semestinya diukur bukan hanya dari capaian yang terlihat, tetapi juga dari perubahan positif yang diwariskan kepada masyarakat.

“Gedung akan menua, jabatan akan berakhir. Tapi seorang anak NTT yang mendapat pendidikan, seorang pemuda yang memperoleh keterampilan dan pekerjaan, serta keluarga yang tertolong karena pelayanan kesehatan. Itulah warisan yang manfaatnya dapat melampaui usia kita,” ungkapnya.

Diberkati untuk Memberkati, Pesan bagi Generasi Muda

Menurut Irman, judul buku Diberkati untuk Memberkati mengandung pesan mendalam bahwa keberhasilan tidak seharusnya berhenti pada pencapaian pribadi. Keberhasilan justru memperoleh makna yang lebih besar ketika diteruskan menjadi kesempatan, pengetahuan, dan harapan bagi orang lain.

Karena itu, ia mengajak generasi muda NTT, khususnya mahasiswa Universitas Citra Bangsa, untuk tidak menjadikan keterbatasan sebagai alasan berhenti bermimpi dan berjuang.

Ia berharap perjalanan hidup Abraham dapat menjadi inspirasi bagi generasi penerus untuk berani membangun cita-cita, bekerja keras, serta menggunakan ilmu dan keberhasilan demi kepentingan masyarakat luas.

“Selamat ulang tahun ke-70 buat sahabat saya, Bapak Abraham Paul Liyanto. Teruslah menjadi berkat bagi NTT dan bagi Indonesia,” tutup Irman.

Dihadiri Sejumlah Tokoh dan Pimpinan Daerah

Peluncuran buku biografi tersebut turut dihadiri mantan Gubernur NTT ke-5 Herman Musakabe, anggota Komisi II DPR RI dari Partai Gerindra Esthon Foenay, mantan anggota DPR RI Charles J. Mesang, Rektor UCB Frans Salesman, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), sejumlah anggota DPRD NTT, serta undangan lainnya.

Melalui peluncuran buku ini, perjalanan hidup Abraham Paul Liyanto tidak hanya dipotret sebagai kisah pencapaian seorang tokoh, tetapi juga sebagai pengingat bahwa keberhasilan sejati menemukan maknanya ketika mampu menghadirkan manfaat bagi sesama.

MMNEWS | Mimbar-MinangNews.com