Today

Lapau Piaman, Budaya Lamo Nan Rancak Untuk Laki-Laki

Bagindo Yohanes Wempi

Lapau atau kedai tradisional ada juga yang menyebut, merupakan warisan sejarah kejayaan Piaman dalam ekonomi, sosial, kebersamaan dan aktivitas budaya kerakyatan di Piaman (Padang Pariaman, Kota Pariaman, Tiku, dan Kota Padang pengiran)

Dahulu lapau identik dengan warung sederhana yang menjual kebutuhan sehari-hari dan tempat laki-laki Piaman tua dan muda bercengkrama, istirahat sambil membangun kejayaan nagari.

Sekarang anak milineal, generasi z, x dan era 2000 ini tidak banyak kenal lagi lapau secara asritek, secara sosial budaya, ekonomi dan keadaan lapau yang menarik lainnya.

Situasi yang sangat memprihatikan sebenarnya karena posisi lapau sudah digeser oleh cafe, resto dan tempat nongkrong gaul anak sekarang, yang pada dasarnya menghilang lapau Piaman budaya lamo itu sendiri.

Pada tulisan ini Saya coba menjelaskan bentuk lapau secara arsitektur dan keadaan lapau yang merupakan warisan diharapkan jangan sampai punah.

Lapau itu dibangun dengan bahan dasar kayu rimbo Piaman, ada 4 (empat) tiang penyanggah utama, diatap pakai rombio dan dindingnya dari anyaman bambu atau papan dari pohon alam Piaman.

Bangunan utama tegak kokoh tempat pemilik lapau tinggal, sekeliling dibuat landaian cucuan atok, beratapkan rumbio, yang dibawahnya ada palanta panjang (kursi) dari batang pinang atau batang krambie, tentu ada meja tempat meletakan makanan dalam cubahak (toples) dan makan lain yang tergantung.

Lapau asli piaman lamo hanya berlantaikan tanah yang dipadatkan, ini yang membuat orang piaman kalau duduk di kursi mewah selalu kaki dinaikan keatas.

Sebelum lapau ada, kebiasaan yang kakinya naik keatas ketika duduk itu hanya orang ahli silat atau memiliki ilmu bela diri silat asli piaman. Lantai lapau yang hanya tanah tersebut juga membentuk suasana lingkungan sehat.

Lapau Piaman juga menyediakan Korok tempat orang yang mau beristirahat atau tidur karena kelelahan seharian beraktivitas, biasa Korok itu terletak di bagian ujung lapau.

Lapau lamo Piaman dipastikan tersedia ruangan tampek lalok (tempat tidur), lantai kayu, ditinggikan agak setengah meter dari permukaan lantau, itu namanya Korok.

Secara umum keistimewaan lapau terletak pada Korok ini menurut Saya, dahulu di bawah era 90an tempat persinggahan istirahat, tidur bagi laki-laki Piaman hanya dua, pertama Surau untuk anak mengaji sekaligus tempat tidur dan orang tuo-tuo tempat beribadah serta tidur.

Setelah itu kedua adalah Korok tempat beristirahatnya orang mudo-mudo, orang tuo yang belum tobat, malas beribadah atau kesurau itu belum jadi budayanya.

Korok adalah tempat menjadi idola bagi laki-laki Piaman bermukim, beristirahat dan tinggal. Namun pada tulisan ini penulis mengajak bercerita tentang Korok tadi. Bahwa Korok memiliki peran penting dalam kehidupan sosial budaya laki-laki Piaman.

Korok merupakan tempat berlabuhnya laki-laki Piaman yang kesepian. Jika anak mudo yang sudah dewasa tapi belum dapat jodoh di sinilah tempat beliau tidur. Sedangkan kondisi tidur di rumah tak mungkin karena malu sama kakak perempuan, adek perempuan yang sudah meningkat dewasa. Maka Laki-laki Piaman di sini tempat tinggalnya di malam hari.

Bersambung….