Mimbar-minangnews – Solok, Sumatera Barat – Dalam suasana pemulihan pasca-bencana banjir bandang (Galodo) yang melanda wilayah Sumatera Barat, Tokoh Masyarakat sekaligus Khatib, Bapak Portito, S.Pd.I., menyampaikan pesan mendalam mengenai hikmah kebencanaan dan pentingnya introspeksi diri (muhasabah) dalam Khutbah Jumat di Masjid Al Kautsar, Muaro Pingai, Junjung Sirih, Kabupaten Solok, Jumat (2/1).
Di hadapan ratusan jamaah, Portito menekankan bahwa bencana alam bukan sekadar fenomena fisik, melainkan momentum spiritual untuk menghitung ulang tujuan hidup dan mempererat solidaritas antarwarga.
Matematika Umur dan Ketidakpastian Hidup Dalam ceramahnya, Portito mengajak jamaah merenungi keterbatasan waktu manusia dengan ilustrasi sederhana namun menohok. Ia mengingatkan bahwa jika seorang muslim berusia 40 tahun, artinya ia baru melaksanakan sholat Jumat sekitar 1.650 kali sepanjang hidupnya.
“Pertanyaannya, sudah ratusan bahkan ribuan kali kita Jumatan, maukah kita mengambil hikmah hakikat dan syariat di belakang perintah Jumat ini?” ujar Portito.
Ia mengaitkan hal ini dengan peristiwa Galodo yang baru saja terjadi, yang menjadi pengingat keras bahwa umur dan kesempatan beribadah bisa terhenti sewaktu-waktu. Oleh karena itu, setiap detik yang tersisa harus dimanfaatkan untuk kebaikan, bukan sekadar rutinitas menggugurkan kewajiban.
*_Jumat Sebagai Momentum Solidaritas Bencana_*
Portito mengkritisi fenomena sholat Jumat yang seringkali hanya menjadi ritual “datang, duduk, mengantuk, lalu pulang”. Ia menegaskan, hikmah terbesar dari berkumpulnya umat di hari Jumat—terutama di wilayah terdampak bencana—adalah untuk membangun Kesalehan Sosial.
Di Jamannya para sahabat Nabi, menjadikan jumat atau jumah, yng berarti berkumpul, sebagai sarana menyelesaikan masalah para warga yang datang ke Masjid. Seharusnya momen jumat, menjadi momen wajib menanyakan kondisi saudaranya. Dan ketika ia keluar dari Masjid, mendapat solusi dari setiap masalahnya.
Itulah makna jaman itu, saat momen wajib sholat Jumat, tidak hanya kewajiban sholat, tapi lebih dalam makna itu, menghadirkan solusi dari permasalahan hidup setiap individu umat. Disanalah Sholat Jumat adalah media mewujudkan keshalehan sosial, yang menjadi pesan kunci mengingatkan setiap umat Islam untuk perhatian kepada setiap saudaranya, dan bersumbangsih pada penyelesaian masalahnya.
“Kenali siapa yang ada di kanan dan kiri kita. Jangan sampai kita tidak tahu saudara kita sedang sakit, atau tetangga kita sedang kelaparan pasca-bencana,” tegasnya.
Menurutnya, inilah hikmah kebencanaan yang sesungguhnya. Bencana Galodo harusnya melahirkan persatuan umat yang lebih kuat, di mana satu warga dengan warga lainnya saling menopang, bukan hidup nafsi-nafsi (sendiri-sendiri) layaknya kaum Quraisy terdahulu yang hanya sibuk berdagang, merayakan penghasilannya di hari libur dan melancong, tanpa mempedulikan sesama.
_Merantau Menuju Kampung Akhirat_
Menutup khutbahnya, Portito menggunakan analogi budaya Minangkabau mengenai “Merantau”. Ia mengingatkan bahwa hidup di dunia hanyalah perantauan sementara. Bencana alam adalah peringatan bahwa “Kampung Halaman” yang abadi adalah akhirat.
“Jangan sampai kita sukses di rantau (dunia), tapi gagal saat pulang kampung (akhirat). Mari jadikan musibah ini sebagai titik balik untuk memperbaiki hubungan dengan Allah (Hablum Minallah) dan hubungan dengan sesama manusia (Hablum Minannas),” pungkasnya.
Khutbah ini diharapkan dapat menjadi penguat mental dan spiritual bagi warga Muaro Pingai dan sekitarnya untuk bangkit kembali menata kehidupan pasca-bencana dengan fondasi keimanan dan kebersamaan yang lebih kokoh.
Tentang Masjid Al Kautsar Muaro Pingai: Masjid Al Kautsar merupakan pusat kegiatan ibadah dan sosial kemasyarakatan yang terletak di Muaro Pingai, Junjung Sirih, Kabupaten Solok. Masjid ini aktif menjadi simpul pemulihan spiritual dan sosial warga, khususnya pasca-kejadian bencana alam di wilayah Solok.
Salam Kemanusiaan,
*Portito, S.Pd.I*
Ketua MDMC Muhammadiyah Sumatera Barat








