PADANG, MMNEWS – Di tengah derasnya arus informasi digital yang mengalir tanpa batas, kemampuan membaca, memahami, dan menyaring informasi menjadi kebutuhan mendasar bagi masyarakat. Hal inilah yang menjadi sorotan Ketua DPRD Sumatera Barat, Muhidi, saat menghadiri kegiatan Sosialisasi dan Bimbingan Teknis Strategi Pengembangan Perpustakaan Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (SPP-TIK) di Kota Padang, 3 Juni 2026.
Menurut Muhidi, perpustakaan saat ini tidak lagi sekadar tempat menyimpan buku, melainkan telah bertransformasi menjadi pusat pemberdayaan masyarakat yang berperan penting dalam mencetak sumber daya manusia (SDM) unggul dan berdaya saing.
“Literasi adalah fondasi kuat untuk mencetak SDM unggul. Kemampuan membaca dan memahami informasi akan membedakan seseorang yang berpikir kritis dengan mereka yang hanya mengikuti arus,” tegasnya.
Di era digital, tantangan masyarakat bukan lagi kekurangan informasi, melainkan melimpahnya informasi yang belum tentu benar. Karena itu, literasi digital menjadi tameng penting untuk melindungi masyarakat dari hoaks, disinformasi, hingga berbagai bentuk manipulasi informasi yang dapat merugikan.
Muhidi menilai, program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial merupakan langkah strategis untuk memperkuat kualitas pendidikan masyarakat hingga ke pelosok desa dan nagari. Melalui program tersebut, perpustakaan didorong menjadi ruang belajar yang terbuka, inklusif, dan mampu meningkatkan keterampilan masyarakat sesuai kebutuhan zaman.
Tidak hanya sebagai pusat literasi, perpustakaan juga mulai berperan sebagai pusat pelatihan ekonomi masyarakat. Di sejumlah daerah di Sumatera Barat, perpustakaan telah dimanfaatkan untuk pelatihan pemasaran digital bagi pelaku UMKM, pengembangan usaha kreatif, hingga edukasi pertanian modern bagi generasi muda.
“Perpustakaan kini menjadi akselerator pembangunan desa. Dengan akses informasi dan teknologi yang lebih luas, masyarakat dapat meningkatkan kapasitas diri, memperluas peluang usaha, dan mempromosikan produk lokal hingga ke pasar yang lebih besar,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa perpustakaan harus menjadi bagian integral dari sistem pendidikan masyarakat, mulai dari lingkungan keluarga hingga komunitas yang lebih luas. Dengan demikian, budaya literasi dapat tumbuh menjadi karakter yang melekat dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi Muhidi, kemampuan memilah informasi merupakan keterampilan hidup yang sangat penting di era digital. Masyarakat dituntut tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga mampu berpikir kritis sebelum mengambil keputusan.
“Ketika masyarakat memiliki budaya literasi yang kuat, maka akan lahir generasi yang cerdas, produktif, berakhlak, dan siap menghadapi tantangan global,” katanya.
Penguatan literasi digital yang didukung transformasi perpustakaan diyakini menjadi salah satu kunci utama dalam mewujudkan desa yang mandiri, maju, dan berdaya saing. Dari perpustakaan, lahir harapan baru untuk mencetak generasi unggul yang mampu membawa daerah menuju masa depan yang lebih cerah.
(MMNEWS)







