Today

Kelas Menengah Indonesia Jatuh Miskin, Perlawan Ketidakadilan

Oleh Labai Korok

Saat ini jutaan jumlah kelas menengah yang terus mengalami penyusutan dan miskin selama beberapa tahun belakangan ini. Penulis harapkan isu ini harus menjadi perhatian pemerintah pusat dan daerah untuk ke depannya, ada bantuan program ekonomi khusus kelas menengah yang diluncurkan.

Data jumlah kelas menengah di Indonesia selalu mengalami penurunan signifikan dari 57,33 juta orang pada 2019 menjadi 48,27 juta jiwa pada 2023. Penurunan sebesar 18,8 persen atau sekitar 9,06 juta jiwa dan tahun 2024, 2025 akan tetap menurun, ini memberikan dampak besar bagi berbagai sektor, khususnya konsumsi dan produksi.

Penurunan kelas menengah ini menjadi miskin dikarenakan ada beban-beban yang ditargetkan oleh pemerintah pusat dan daerah seperti tidak adanya program khusus untuk mereka, akhirnya kekuatan pertumbuhan ekonomi tidak membantu.

Ditambah lagi adanya beban tambahan yang belakangan ini diterima oleh kelas menengah seperti rencana kenaikan PPN dari 11-12% persen, pemungutan tapera, serta penerapan cukai pada minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK). Meskipun hal ini belum terjadi.

Kemudian, tidak berhaknya kelas menengah dalam dalam menerima bantuan langsung tunai (BLT), penerima Program Keluarga Harapan (PKH) dan Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) yang seharusnya diperuntukkan bagi masyarakat miskin, kecuali adanya ketidaktepatan sasaran.

Menteri Keuangan Sri Mulyani blak-blakan soal jumlah kelas menengah yang turun ini. Ia mengatakan kelas menengah tertekan oleh kenaikan harga atau inflasi dan pengetatan pajak.

“Penurunan kelas menengah biasanya karena inflasi. Dengan inflasi tinggi, maka garis kemiskinan naik, mereka tiba-tiba akan jatuh ke bawah,” katanya di kantor Kementerian Keuangan bulan lalu.

Sekarang sudah saatnya pemerintah pusat dan daerah memberikan perhatian pada kelas menengah melalui program peningkatan sumber daya dan program ekonomi khusus, tujuan tentu agar ekonomi tidak ambruk akibat kelas menengah melakukan perlawanan.

Perlu diketahui bahwa kelas menengah itu adalah sedikit lebih bervariasi. Orang-orang kelas menengah ke atas memiliki kekayaan bersih rata-rata sekitar US$ 300.800 atau Rp 4,64 miliar.

Keluarga kelas menengah pada umumnya memiliki kekayaan bersih US$ 169.420 atau Rp 2,61 miliar.

Dan jika Anda berada di kelas menengah ke bawah, Anda akan memiliki sekitar US$ 58.550 Rp 905 juta.

Mari saatnya pemerintah pusat dan daerah memberikan program khusus pada kelas menengah secara priodik, jangan sampai kelas menengah memberikan perlawanan yang bisa berefek buruk terhadap bangsa dan negara.

Perlawanan kelas menengah ini karena pemerintah pusat dan daerah tidak berlaku adil dalam melayani anak bangsa.