Oleh : Hendri Gunawan
Beberapa waktu yang lalu viral pedagang es teh dijadikan candaan berlebihan oleh salah satu pejabat utusan khusus kepresidenan jadi ramai perbincangan baik media sosial, media elektronik dan portal secara nasional dan masif.
Cerita diatas salah satu dari cerita lainnya sebagai fakta banyak hal yang manjadi hikmah bagi kita, jangan remehkan masyarakat kecil oleh publik figur dan pemangku jabatan bisa tumbang akibatnya. Gak bahaya tah.
Penulis mengingatkan jangan mengangap remeh masyarakat kecil apalagi sombong, walaupun hanya candaan, banyak fakta cerita sejarah membuktikan tumbangnya pejabat yang sombong, congkak dan angkuh berlebihan dalam candaan termasuk publik figur dan pemangku jabatan sekalipun bisa karam dengan keangkuhan dan kesombongan diri.
Kalau bercanda jangan berlebihan, lah apalagi menjadi olok-olokan, akan menjadi dampak yang tidak baik bagi diri sendiri, hal tersebut diatas harus menjadi ibrah dan pelajaran yang berharga bagi kita semua supaya tidak kembali terjadi lagi hal candaan dan olok-olokan yang berlebihan walaupun hanya bercanda.
Mari kita intropeksi diri agar tidak kelewatan dalam berperilaku dalam tutur kata kesehatan kita walaupun itu candaan, jangan juga baperan dalam bergaul, banyak berlapang dada berjiwa besar dan sabar, sehingga apa yang menjadi cerita maupun candaan antar sesama atau cemeeh kalau bahasa minang, bullying kalau bahasa trennya.
Ucapan dan tutut kata itu salah satu gambaran cerminan kita kepada sesama, apakah tutur katanya baik atau buruk dan yang pasti akan ada dampaknya bagi kita sendiri, Dalam Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah bersabda “Barang siapa yang beriamn kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam, …..”.
Hadis tersebut sangat penting dan relevan diungkapkan kembali, pertama, untuk menyegarkan ingatan kita bahwa Nabi Muhammad SAW telah memberi tuntunan, bimbingan dan panduan kepada setiap orang supaya selalu berbicara atau berkata yang baik (termasuk menulis dengan kata-kata yag baik).
Kedua, dalam perbincangan publik, terutama dalam tulisan di media sosial, pesan Nabi Muhammad SAW “Qul Khairan Au Liyasmut (Berkatalah yang baik atau diam) sudah dilupakan. Bangsa Indonesia yang mayoritas Muslim, telah lupa Hadist tersebut, sehingga suka mengutakan pendapat secara kasar dengan menuduh, menista, mencaci maki dan menfitnah.








