Oleh Labai Korok Piaman
Sikap Anggota DPR RI, Anggota DPD RI, unsur Pemerintah rencana akan meanulir keputusan MK melalu kebijakan revisi UU tentang Pilkada. Hal ini tumbuh kemarahan rakyat yang menyebabkan terjadi demonstrasi dimana-mana.
Sikap Anggota Dewan disenayan ini disinyalir adalah pengikut Raja Jawa yang bengis, entah ini kebetulan atau tidak, Bahlil berucap di momen resmi bahwa ada Raja Jawa yang kita harus paten.
Ungkapan ini disampaikan pada acara resmi partai yang kutipannya adalah “Jadi Kita harus lebih paten lagi, soalnya Raja Jawa ini kalau kita main-main, celaka kita. Saya mau kasih tahu saja, jangan coba-coba main-main barang ini. Waduh ini ngeri-ngeri sedap barang ini, Saya kasih tahu,” kata Bahlil, Rabu (21/8/2024).
Bahasa yang disampaikan itu makin membuktikan bahwa ada segerombolan pengikut Raja Jawa yang sedang memainkan peran merubah konstitusi negara seperti meanulir atau menolak keputusan MK melalui kekuatan Anggota Dewan.
Kesemua diatas membuat elemen mahasiswa, elemen pergerakan, kelas menengah, buruh, akademisi hingga komika dan lainnya meminta DPR dan Pemerintah agar dapat mentaati putusan Mahkamah Konstitusi (MK)
Tuntutan hanya jangan ada Raja Jawa yang bengis membangun dinasti kekuasaan, semua demo, turun kejalan agar rombongan Raja Jawa mentaati keputusan MK tentang syarat pencalonan Kepala Daerah pada Pilkada 2024.
Mereka para pendemo juga menegaskan bakal tetap mengawal putusan MK.
Seruan tersebut disampaikan oleh massa aksi yang ikut dalam demonstrasi ‘Darurat Indonesia’ di depan Gedung DPR, pada Kamis (22/8) hari ini.
Pada demonstrasi meminta agar DPR bersama pemerintah dapat menaati putusan tersebut dan tidak mengakalinya dengan menerbitkan UU Pilkada baru.
Semua kawal putusan MK. Seharusnya yang sudah ditetapkan oleh MK itu sudah final dan kita taati oleh semua.
Gerakan komponen rakyat Indonesia sudah tepat, sudah saatnya kekuasaan Raja Jawa yang bengis Kita hilangkan di NKRI ini, Kita hambat orang perorang membangun kejayaan negeri dengan elemen kekuasaan Raja Jawa bengis dengan pola penakut yang disebarkan disetiap pertemuan.
Maaf saja generasi muda, milenial, generasi Z, X yang ada di Indonesia tidak kenal dengan budaya Raja Jawa yang bengis, mereka hanya kenal bahwa semua peluang itu melalu kompetensi keadilan untuk semua rakyat tampa ada pengaturan dengan pola dinasti Raja Jawa.








