Oleh Labai Korok Piaman
Kenaikan anggaran HUT RI tahun ini sangat pantastis, disinyalir keborosan ini disaat lebih kurang 19juta penduduk Indonesia dalam kondisi perut kosong atau kelaparan *Rocky Gerung.
Kesemua pembiayaan kemeriahan HUT RI itu dananya dari pajak rakyat, Pemerintah memotong uang rakyat dalam bentuk pajak pendapatan negara.
Sedangkan rakyat pinggiran memeriahkan HUT RI karena tidak ada uang dilakukan lah menutup setiap persimpangan jalan memintak sumbangan.
Terkadang lalu lintas sengaja distop, akhirnya jalan macet oleh warga dengan harapan bisa mendapatkan uang dari pengendara yang lewat, terkesan rakyat mengemis.
Sangat tidak adil antara HUT RI IKN bergelimang uang, HUT RI di tengah rakyat kampung yang juga ingin bergembira namun uang tak ada.
Sedih memang Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyiapkan dan mengelontorkan anggaran sebesar Rp87 miliar untuk upacara peringatan HUT ke-79 RI di Ibu Kota Nusantara (IKN).
Ungkapan ini disampaikan oleh Direktur Jenderal Anggaran Isa Rachmatarwata mengatakan anggaran naik dibandingkan upacara HUT RI di Jakarta tahun lalu sebesar Rp53 miliar.
“Tahun ini kami menyiapkan anggaran lebih kurang Rp100 miliar untuk perayaan 17 Agustus di IKN, kalau dibanding tahun lalu di Jakarta itu Rp53 miliar,” kata Isa dalam konferensi pers APBN di Kementerian Keuangan, Selasa (13/8/24).
Sekarang pertanyaannya kemerdekaan apa yang didapat oleh rakyat ini, melakukan HUT RI dengan cara mengemis, sedangkan pejabat negara memperingati HUT RI dengan dana berlimpah.
Rakyat kecil terpaksa mengorbankan baju lusuhnya untuk acara panjat pinang demi kemeriahan HUT RI tersebut. Sedangkan pejabat negara mendapatkan baju baru, jas baru, pakaian khusus dibuatkan melalu anggaran negara yang sumbernya dari uang rakyat.
Sepertinya rakyat perlu disadarkan bahwa kemerdekaan Indonesia yang ke-79 tahun belum ada keadilan, belum ada nilai-nilai Pancasila yang diaplikasikan dalam bernegara seperti keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, entah dimana keadilan itu.








