Today

Relawan Hadir di Garis Depan, Apresiasi Tak Kunjung Datang

Mimbar-MinangNews.com, Padang Pariaman — Kehadiran relawan Muhammadiyah–‘Aisyiyah dalam penanganan bencana banjir bandang dan galodo di Kabupaten Padang Pariaman sejak akhir November 2025 tidak terbantahkan. Sejak masa tanggap darurat, relawan telah berada di garis depan membantu masyarakat terdampak.

Namun hingga kini, kontribusi tersebut dinilai belum mendapat apresiasi yang layak dari Pemerintah Daerah Padang Pariaman.
Relawan yang tergabung dalam Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), LAZISMU, ‘Aisyiyah, serta jejaring tenaga kesehatan, mulai bergerak sejak 26 November 2025. Mereka mendirikan pos pelayanan dan dapur umum di sejumlah titik terdampak, menyediakan kebutuhan dasar bagi warga yang kehilangan akses terhadap makanan dan air bersih.

Dalam masa tanggap darurat, dapur umum relawan menyalurkan lebih dari 1.600 porsi makanan kepada masyarakat terdampak. Selain itu, layanan kesehatan gratis digelar selama tujuh hari berturut-turut bekerja sama dengan Rumah Sakit ‘Aisyiyah Pariaman. Layanan ini menjangkau warga yang mengalami gangguan kesehatan pascabencana, terutama kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak.

Relawan Muhammadiyah–‘Aisyiyah juga memberikan pendampingan psikososial dan trauma healing, khususnya bagi anak-anak yang terdampak secara mental akibat bencana. Di sisi lain, bantuan logistik berupa sembako, family kit, dan school kit disalurkan secara bertahap melalui koordinasi dengan berbagai pihak dan donatur.

Meski telah berkontribusi secara nyata, relawan menyampaikan kekecewaan karena peran mereka tidak mendapat pengakuan dalam momen peringatan Hari Jadi Kabupaten Padang Pariaman ke-193. Tidak adanya apresiasi tersebut dinilai mencerminkan kurangnya penghargaan terhadap peran masyarakat sipil dalam penanggulangan bencana.

Koordinator Posko Bencana Muhammadiyah Padang Pariaman menegaskan bahwa relawan tidak bekerja untuk mengejar penghargaan. Namun, pengakuan dari pemerintah daerah tetap penting sebagai bentuk penghormatan dan penguatan semangat kolaborasi.

“Relawan hadir karena panggilan kemanusiaan. Tetapi apresiasi dari pemerintah merupakan bagian dari etika penanggulangan bencana, agar kerja-kerja kemanusiaan tidak dianggap remeh,” ujarnya.

Meski demikian, relawan Muhammadiyah–‘Aisyiyah memastikan komitmen mereka tidak akan surut. Mereka menyatakan kesiapan untuk terus terlibat dalam tahap rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana, termasuk pendampingan pemulihan ekonomi masyarakat di hunian sementara.

Relawan berharap ke depan penanganan bencana di Padang Pariaman dapat lebih mengedepankan kolaborasi yang setara dan saling menghargai. Dengan demikian, seluruh pihak yang terlibat dalam kerja kemanusiaan dapat berjalan seiring demi kepentingan utama, yakni keselamatan dan kesejahteraan masyarakat terdampak bencana.