Oleh Labai Korok (Purna Paskibraka Indonesia/PPI 1997*)
Mimbar-minangnews.com | Salah satu anggota Paskibraka yang pernah bertugas pada upacara 17 Agustus, tahun 1997 di Kantor Bupati Padang Pariaman, sangat lah wajar berbangga diri, karena selaku anak kampung yang berasal dari desa tertinggal waktu itu, suatu hal membanggakan.
Penulis saat itu digabungkan dalam pasukan 17 (pengiring/pemandu). Selaku siswa yang sekolah di SMEA N Pariaman atau sekarang menjadi SMK N 2 Pariaman, ini juga menjadi kebanggaan bagi sekolah dan teman-teman yang mengetahui waktu itu.
Penulis lulus Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kabupaten Padang Pariaman dikarenakan postur badan tinggi (sesuai aturan), kemahiran dalam baris berbaris (PBB) juga ada, karena Penulis termasuk aktif sebagai anggota Pramuka di SMP Negeri Pakandangan (SLTP 1 Enam Lingkung). Saat uji keterampilan masuk Paskibraka, syarat terpilih, memenuhi kelukusan ujian kompetensi.
Walaupun diakhir-diakhir ini, Penulis tahu juga bahwa yang masuk Paskibraka Padang Pariaman tersebut, banyak juga ada anak-anak pejabat Padang Pariaman waktu itu, istilah sekarang karena ada Ordal.
Alhamdulillah, Penulis bersyukur selaku anak desa tertinggal waktu itu bisa terpilih, terlibat, masuk juga pasukan 17, ini suatu kebanggaan yang dalam sejarah sekolah, kampung, Desa, Kecamatan, keluarga miskin bisa terpilih. Serta termasuk orang yang bisa dilibatkan dalam tugas tersebut.
Perlu Penulis jelaskan bahwa setelah menyelesaikan tugasnya sebagai anggota Paskibraka, Penulis atau mereka yang telah purna bertugas disebut Purna Paskibraka. Organisasi yang menaungi alumni Paskibraka adalah Purna Paskibraka Indonesia (PPI).
Sejarah singkat gagasan Paskibraka ini lahir pada tahun 1946, pada saat ibu kota Indonesia dipindahkan ke Yogyakarta. Memperingati HUT Proklamasi Kemerdekaan RI yang ke-1, Presiden Soekarno memerintahkan salah satu ajudannya, Mayor (Laut) Husein Mutahar, untuk menyiapkan pengibaran bendera pusaka di halaman Istana Gedung Agung Yogyakarta. Pada saat itulah, di benak Mutahar terlintas suatu gagasan bahwa sebaiknya pengibaran bendera pusaka dilakukan oleh para pemuda dari seluruh penjuru Tanah Air, karena mereka adalah generasi penerus perjuangan bangsa yang bertugas.
Perkembangan waktu Pada tahun 1967, Husein Mutahar dipanggil Presiden Soeharto untuk menangani lagi masalah pengibaran bendera pusaka. Dengan ide dasar dari pelaksanaan tahun 1946 di Yogyakarta, dia kemudian mengembangkan lagi formasi pengibaran menjadi 3 kelompok yang dinamai sesuai jumlah anggotanya, yaitu: Pasukan 17 / pengiring (pemandu), Pasukan 8 / pembawa bendera (inti), Pasukan 45 / pengawal.
Jumlah tersebut merupakan simbol dari tanggal Proklamasi Kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945 (17-8-45). Sampai hari ini formassi pasukan tersebut masih dipakai.
Paskibra dan Paskibraka adalah dua entitas yang berbeda namun terkait erat. Paskibraka (Pasukan Pengibar Bendera Pusaka) adalah pasukan yang bertugas mengibarkan duplikat Bendera Pusaka saat upacara peringatan HUT Kemerdekaan RI di tingkat nasional, provinsi, dan kabupaten/kota.
Selaku alumni pasukan Paskibraka, Penulis mengucapkan selamat bertugas pada adik-adik besok tanggal 17 Agustus 2025 di mana pun Provinsi, Kabupaten atau Kota-nya. Laksanakan tugas dengan baik, sejarah bertugas jadi pasukan ini hanya sekali saat kita jadi siswa/Siswi.








