Oleh Labai Korok
Budaya kebersamaan ditengah masyarakat Piaman tetap lah dilestarikan dan dijaga seperti buah (durian, ambacang, kelepa, dan lainnya) jatuh karena takdir Allah SWT maka orang/warga yang lewat boleh mengambil disaat pemilik tak ada dibatang pohon buah tersebut.
Budaya sosial tinggi ini sampai sekarang didaerah Penulis masih dilestarikan atau dipakai, malah pemilih buah merasa senang dan gembira ketika buah durianya dimakan sama orang lain.
Begitu juga dengan orang yang mengambil/mendapat buah pohon (durian, ambacang, kelapa, dan lannya) itu, juga senang menceritkan, “ketika ada yang bertanya dimana dapat durian itu, secara jujur disampaikan bahwa ini durian milik batang sifulan.
Budaya sosial seperti ini, setelah Penulis tanyakan pada tetua yang berumur 110tahun dikampung mengatakan bawa budaya tersebut berasal dari Syekh Burhanuddin, ulama besar itulah yang mengajarkan kepada masyarakat Piaman, Minangkabau bahwa buah-buahan jatuh boleh diambil, lalu besok-besok andaikan ketemu pemiliknya langsung dimintak untuk dimanfaatkan biar berkah didapat kemarin.
Dalam catatan Penulis dimana ada ajaran Syekh Burhanuddin dipastikan ada budaya sosial yang dipakai oleh masyarakat muslim setempat, silahkan dicek keberadaan budaya ini.
Secara pribadi Penulis juga mensyukuri ada budaya sosial tersebut ditengah masyarakat Piaman dan Minangkabau, hal ini menurut Penulis sesuai dengan budaya Itsar dalam islam.
Dalam ajaran Islam ada namanya Itsar, sikap yang punya memberi pada yang lain karena keiklsan tinggi seperti yang terjadi dibudaya yang Penulis jelaskan diatas.
Secara bahasa, “itsar” memiliki makna mendahulukan atau mengutamakan orang lain. Namun, dalam konteks istilah, itsar mengacu pada tindakan mendahulukan kepentingan orang lain daripada diri sendiri dalam urusan dunia dengan harapan mendapatkan pahala di akhirat.
Tindakan itsar ini dilakukan dengan keyakinan yang kuat, cinta (mahabbah) yang mendalam, dan kesabaran dalam menghadapi kesulitan. Contohnya bisa dilihat dalam sikap orang-orang Muhajirin dan Anshar, seperti yang disebutkan dalam ayat berikut:
“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshar) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshar) tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9).
Sikap itsar ini sangat terpuji dan dicintai oleh Allah SWT. Pelakunya bisa mencapai derajat yang tinggi di mata Allah. Allah SWT berfirman, “Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebajikan. Sehingga kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai.” (QS. Ali Imran: 92). Selain itu, dalam hadis-hadis yang sahih, keutamaan meneladani sikap itsar juga telah disebutkan.
Menurut Penulis nilai itsar ini lah yang dilakoni dalam kehidupan di Piaman sehingga tingkat keiklasan itu mencapai puncak bahwa buah seperti durian kita jatuh karena takdir Allah SWT lalu diambik orang, pemilik dipastikan iklas memberikan demi kebaikan masyarakat Piaman.








