Today

Kapatabang Bisa Jatuh, Maksiat Dibiarkan Dimata Kita

Oleh Labai Korok

Penerbangan jam 18.30 kemarin, Penulis duduk dibangku lorong 10D, kebiasaan Penulis naik kapatabang selalu diawal waktu menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, Alhamdulillah bisa dahuluan duduk dibangku pesawat tersebut.

Setelah 5 menit Penulis duduk, datangan pasangan (laki-laki dan perempuan ) anak muda sambil bergandengan tangan mengarah kebangkun Penulis, sambil memperlihatkan tiket duduknya, Penulis mempersilahkan pasangan anak muda itu duduk dbangku 10E, dan F, posisi disamping.

Namun yang anehnya setelah mereka duduk, Penulis pun duduk, pasangan sejoli ini saling bercanda, berpelukan, ciuman yang membuat perasaan Penulis tak enak, akhirnya Penulis bertanya kepasangan lelakinya, apa gerangan status mereka berdua?.

Penulisan tanya mereka berdua ini adik kakak kah?, lelaki-tersebur jawab tidak, Penulis tanya lagi, pasangan ini sudah menikah (suami istri), lelaki tersebut menjawab tidak juga.

Akhirnya Penulis marah dengan nada suara agak tinggi mengatakan “jangan lakukan maksiat diatas pesawat ini, nanti bisa jatuh kapatabang ini gegara saudara berpacaran dan bermaksiat didalamnya.

Alhamdulillah karena Penulis marah, pasangan sijoli yang tadi kemasukan setan tersebut akhirnya tidak melakukan hal aneh seperti keadaan sebelumnya.

Penulis adalah orang yang tegas dalam melihat kemungkaran atau keadaan maksiat tersebut, karena sikap itu yang diajarkan oleh Islam yang penulis anut, sampaikan lah kebaikan itu walaupun berat.

Fenomena anak sekolah, mahasiswa pacar sudah menjadi budaya dan telah menjadi penyakit masyarakat ditengah ummat terkhusus di Minangkabau, jika tidak ada kata tegas memberantasnya maka maksiat akan terjadi dimana-mana.

Agama Islam mengajarkan kita (ummat) untuk berani melakukan amal ma’ruf nahi mungkar (menyeru pada kebaikan dan mencegah keburukan). Penulis dan para pembaca budiman memiliki
tugas untuk menyebarkan nilai-nilai kebaikan dalam Al-Qur’an dan As-Sunah. Selain
itu juga memiliki kewajiban untuk mencegah kejahatan terjadi.

Lalu, kembali kepada contoh kasus dua remaja diatas pesawat yang Penulis marahi, Penulis lihat Meraka baru anak sekolah di atas, pertanyaannya kepada pembaca, apa yang harus diperbuat?

Ya, saga wajar Penulis marahi mereka atau tentu saja harus memisahkan mereka dengan suara atau tangan apabila mereka melakukan hal di luar batas.

Sikap yang tegas menegur mereka untuk
mengingatkan. Kita harus berusaha mencegah mereka melakukan hal-hal buruk diatas pesawat yang bisa menatang rencana.

Tentu saja kita mencegah dengan cara-cara yang berbudaya dan tanpa kekerasan perlu dihindari. Karena begitulah yang diajarkan Rasulullah saw. ketika berdakwah.

Sekarang saatnya mencegah maksiat didepan kita, doa semoga saja
langkah kita mencegah keburukan bisa menjadi jalan hidayah bagi banyak orang. Aamiin.

“Barang siapa
dari kalian melihat kemungkaran maka hendaklah dia mengubah kemungkaran
tersebut dengan tangannya, apabila tidak sanggup ubahlah dengan lisannya,
apabila tidak sanggup ubahlah dengan hatinya (dengan doa), yang demikian adalah
selemah-lemah keimanan.” (H.R. Muslim dan lainnya dari Abi Said Al
Khudri.)

Pembaca budiman, ternyata ada hal buruk yang akan terjadi jika membiarkan kemungkaran merajalela. Dan akibat yang ditimbulkannya sungguh mengerikan.

Akan timbul budaya maksiat ditengah masyarakat Minang, Kita jangan anggap enteng dengan
kemungkaran, meskipun itu adalah hal yang kecil.

Mengapa?, Karenan kemungkaran yang dilakukan oleh seseorang bisa menular kepada yang lainnya. Lalu apa efek
selanjutnya ?, Kemungkaran itu bisa menjadi budaya ditengah masyarakat.

Ambil perumpamaan misalnya adalah menyontek saat ujian ulangan. Jika
menyontek dibiarkan, maka lambat laun akan menjadi budaya dan menjadi hal yang
lumrah di sekolah tersebut.

Termasuk juga dengan suap-menyuap, korupsi dalam sebuah instansi. Bila dibiarkan maka akan menjadi hal lumrah dan kelak bisa menjadi budaya.

Terakhir tentu efek dari maksiat, ini akibat yang paling mengerikan dari
kemungkaran yang merajalela adalah bisa menjadi penyebab turunnya azab Allah
SWT.

Azab ini tidak hanya mengenai orang-orang yang ingkar dan berbuat maksiat
saja, akan tetapi bisa menimpa orang-orang saleh seperti keadaan diatas kapatabang tersebut, gegara pasangan bermaksiat dengan pelukan akhirnya kapatabang jatuh, Kita mati semua tidak hanya pelaku.

Peringatan seputar ini disampaikan Allah
SWT. langsung dalam firman-Nya surah Al-Anfal ayat 25 berikut ini, “Dan peliharalah diri kalian dari fitnah
(siksaan) yang tidak hanya menimpa orang-orang zalim saja di antara kalian, dan
ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.”

Mari masyarakat Minangkabau bersikaplah, cegak kemungkaran, hilang budaya maksiat ditengah Kita, agar negeri ini selamat.