
Oleh Labai Korok Piaman
Penulis asli Piaman, sangat bangga sekali didunia Minangkabau ini, jika dibuat Masjid Raya Sumatra Barat ditambah namanya menjadi Masjid Raya Sumbar, Syekh Burhanuddin. Mohon perlu juga dijadikan pertimbangan.
Namun begitu juga Kita semua akan bangga didunia internasional, ditengah pergaulan nasional ini, jika Masjid Raya Sumbar ditambah nama tokoh Minangkabau hebat didunia Islam yaitu Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi.
Kebanggaan Penulis itu sudah diwujudkan oleh orang Piaman dengan ada Masjid Raya Syekh Burhanuddin terletak di Ulakan. Sekarang simbol publik bahwa Syekh Burhanuddin telah diabadikan tidak hanya masjid tapi juga nama jalan utama oleh orang Piaman.
Tentu sangat wajar nama Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi disematkan di nama Masjid Raya Sumbar, usullan Penulis Gubernur Sumbar juga menyematkan nama Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi di nama jalan, nama gedung, nama lain yang akan dikenang oleh generasi berikutnya yang sudah lupa sejarah.
Perlu Penulis jelaskan dalam tulisan ini tentang sejarah hidup Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi ini pada pembaca agar ada kecintaan Kita terhadap ulama yang satu ini
Menurut Hamka berdasarkan catatan ayahnya, Diketahui, Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi lahir di Sumatera Barat pada tahun 1860. Sebelum belajar di Makkah, ia sempat mengenyam pendidikan di Kweekschool atau Sekolah Guru di Fort de Kock, Bukittinggi. Hingga pada usia 11 tahun, barulah ia pergi ke tanah suci.
Di negeri seberang, karena baik budinya dan keluasan ilmunya, ia disayangi banyak orang termasuk seorang hartawan bernama Syaikh Shaleh Kurdi, dan dinikahkan dengan putrinya yang bernama Khadijah.
Ia menjadi guru bagi para penuntut ilmu dari Nusantara, di antaranya K.H. Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), K.H. Hasyim Asy’ari (pendiri NU), Syaikh Abdul Karim Amrullah (ayah Buya Hamka), Syaikh Ibrahim Musa Parabek, Syaikh Jamil Jaho, dan lain-lain. Selain itu ia juga diangkat sebagai mufti mazhab Syafi’i di Masjidil Haram.
Ahmad Khatib wafat di Makkah pada tahun 1916. Lebih kurang empat bulan sebelum berpisah dengan kehidupan dunia, ia sempat merampungkan sebuah autobiografi. Ia menerangkan latar belakang penulisan manuskrip setebal lima puluh dua halaman.
Menurut Hamka berdasarkan catatan ayahnya juga, Ahmad Khatib hanya sekali pulang ke Indonesia selama beberapa bulan, setelah itu ia kembali ke Makkah sampai akhir hayatnya. Meski ia menetap di Makkah hampir seumur hidupnya, tapi kecintaannya kepada tanah kelahiran, Minangkabau, tak pernah luntur.
Demikianlah sepenggal kisah tentang Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi. Semoga dari kisah kehidupan beliau ini menjadi motivasi bagi kita agar terus belajar dan menuntut ilmu agama serta ada semangat Kita bersama Masjid Raya Sumbar ditambah nama Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi.








