Today

Politisasi Pernyataan Djamaris Chaniago, Nasehat Pribadi Yang Normal

Oleh Labai Korok

Sekarang viral video pernyataan Jenderal TNI (Hor.) (Purn.) Djamari Chaniago di publik bahwa beliau seolah-olah memarahi Ketua adat Minangkabau yang bertemu di kantornya. Menurut Penulis, Djamaris Chaniago sekedar menasehati bawahnya yang kebetulan Ketua adat Minangkabau, wajar seorang jendral menasehati ala militer pada bawahannya sesama pensiunan militer.

Andaikan Ketua adat Minangkabau itu seorang politisi, apalagi tokoh partai kunci, sama dengan presiden Prabowo, diyakini tak akan keluar kata-kata seperti yang viral hari ini.

Karena ada kaedah-kaedah minang, ketika marah tokoh masyarakat pada ketua adat, itu polanya kata malereng, bukan kata manurun. kalau manurun itu dalam keadaan pangkat yang lebih tinggi ke pangkat yang lebih rendah.

Jadi menurut Penulis, mari ambil kebijaksanaan selaku sosok urang Minang. Tak ada gading yang tak retak, tak ada mawar yang tak berduri”. Artinya Setiap orang pasti pernah berbuat salah atau memiliki kekurangan, sehingga pepatah ini mengajarkan untuk tidak sombong, saling memaafkan, dan tidak menuntut kesempurnaan pada orang lain. Maka mari ambil kebijaksanaan dan memaafkan keadaan yang ada.

Video viral Djamaris Chaniago itu berisi, dalam pidato yang disampaikan saat menghadiri kegiatan di Sekolah Staf dan Pimpinan Lemdiklat Polri pada Senin (9/3/2026),

Djamari menceritakan pengalaman pribadinya ketika ditawari gelar datuk oleh seorang tokoh adat setelah dirinya dilantik sebagai Menko Polkam.

Alih-alih langsung menerima, Djamari justru menanggapi tawaran tersebut dengan sebuah pertanyaan yang menyindir pengalaman masa lalu dalam pemberian gelar adat kepada seorang perwira tinggi kepolisian.

Saya katakan begini, ‘Anda pernah tahu enggak bahwa anda pernah salah besar dalam memilih seorang Datuk’,” ujar Djamari, dikutip dari video yang diunggah akun Threads pada Selasa (10/3/2026).

Dalam penjelasannya, Djamari menekankan bahwa gelar datuk merupakan simbol kehormatan dalam adat Minangkabau yang seharusnya dijaga marwahnya.

Menurutnya, pemberian gelar adat tanpa pertimbangan yang matang justru dapat merusak nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi tersebut.

“Kenapa salah? ‘Kamu melantik seorang Jenderal, Datuk, dan dia adalah biang keroknya narkoba. Jadi kamu akan persamakan saya dengan narkoba itu?’ Diam dia,” ucap Djamari.

Sindiran itu, kata Djamari, membuat tokoh adat yang menawarkan gelar tersebut terdiam. Ia bahkan melanjutkan dengan mempertanyakan bagaimana gelar adat bisa diberikan tanpa mengetahui rekam jejak orang yang menerimanya.

Justru saya tanya sama Anda, gimana ceritanya Anda bisa melantik seseorang tanpa Anda tahu latar belakangnya, dia dilantik menjadi Datuk?” ujar Djamari.

Ia menegaskan bahwa gelar datuk bukan sekadar simbol sosial, melainkan jabatan kehormatan dalam adat Minangkabau yang seharusnya dijaga dengan penuh tanggung jawab.

“Datuk adalah jabatan kehormatan dalam adat di Minangkabau. Bukankah Anda sendiri yang menghancurkan adat itu?” sambungnya.

Dari isi video itu seperti yang Penulis jelaskan diatas, kita dapat menyimpulkan posisi Djamaris jelas sekali memberikan nasehat pada posisi pangkat militer dibawahnya yang juga ketua adat Minangkabau,

Jadi pada masyarakat jangan ada politisasi terhadap angku datuak Ninik Mamak Kita di Minangkabau, semua ambil hikmahnya, apalagi saat ini bulan Ramadhan, semua saling memaafkan.