Oleh Labai Korok
Mimbar-minangnews – Sumatera Barat paska reformasi dipimpin oleh angku datuak yang malin beribadah dan ada juga yang dikenal dengan ustad atau buya. Tentu dengan kondisi bencana galodo sekarang ada yang harus bermuhasab dan introspeksi, koreksi diri. Apa yang salah?.
Satu nilai dasar dalam diri angku datuak, para malin beribadah, sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang senantiasa sadar dan ingat betapa besar kesalahan dan dosa yang dilakukannya. Nah wajar para nara sumber di acara advokat Sumbar bicara PadangTV mengajak pemangku kepentingan lingkungan hidup dan Pemerintah Daerah untuk lakukan taubat nasuha.
Hal senada ini juga sudah disampaikan oleh Menko Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar atau Cak Imin mengajak beberapa menteri melakukan tobat nasuha setelah bencana terjadi di Sumatera.
Walaupun seruan Cak Imin pun menuai beragam komentar.
Ajakan Cak Imin itu disampaikan dalam acara ‘Workshop Kepala Sekolah Untuk Program SMK Go Global’ di Bandung, Senin (1/12). Cak Imin menilai tobat nasuha sebagai upaya penyesalan mendalam dan perbaikan kerja pemerintah.
Taubat nasuha merupakan salah satu jalan untuk menghindari terjadinya bencana lebih hebat lagi, tentu dengan upaya permintaan pengampunan kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa dan tidak mengulangi lagi perbuatan serta dosa-dosa di masa akan datang, kata dia.
Sebagai manusia tentunya tidak luput dari kesalahan dan dosa, namun hal tersebut tidak menjadi pembenaran bagi kita untuk selalu berbuat salah dan dosa.
Taubat nasuha paska bencana ini mewajibkan pelakunya untuk menggabungkan antara keinginan kuat untuk menjauhi atau tidak kembali kepada dosa dengan kejujuran seseorang tersebut dalam bertaubat. Oleh karena itu, taubat nasuha ini perlu dilakukan tanpa menyisakan keraguan dan penyesalan dalam hati pelakunya serta penundaan pelaksanaannya.
Pelaksanaan taubat nasuha ini terlaksana semata karena adanya perasaan takut dan khawatir akan Allah SWT dan azab yang mungkin datang serta adanya keinginan untuk mendapatkan kenikmatan berada di sisi-Nya. Bukan karena tuntutan dunia yang memojokan pihak selama ini berkuasa, seperti demi menjaga kewibawaan, kedudukan, dan kepemimpinan, serta alasan lainnya yang bersifat keduniawian yang selain alasan untuk Allah SWT semata.
Seruan taubata nasuha paska galodo atau banjir ini menjadi topik yang selalu disampaikan oleh segala pihak berkuasa di Sumatera, khususnya Sumatera Barat, tujuan hanya satu agar kedepan masyarakat bisa terlindungi oleh bencana.









