Today

“Sekali Aie Gadang Sekali Tepian Baubah”, Budayakan Rumah Bagonjong Minang

Oleh Labai Korok

MMNews – Hilangnya nilai arsitektur atap gonjong kantor Pemerintah di beberapa daerah diawali adanya gempa keras tahun 2009. Menurut data Satkorlak PB, sebanyak 1.117 orang tewas akibat gempa ini yang tersebar di 3 kota & 4 kabupaten di Sumatra Barat, korban luka berat mencapai 1.214 orang, luka ringan 1.688 orang, korban hilang 1 orang.

Sedangkan 135.448 rumah rusak berat, 65.380 rumah rusak sedang, & 78.604 rumah rusak ringan.

Saat itu juga tercatat Gempa bumi Padang 2009 menyebabkan kerusakan berat pada sejumlah gedung kantor, dengan data Satkorlak Penanggulangan Bencana Sumbar mencatat 388 unit kantor pemerintah mengalami kerusakan. Selain itu, ada 50 bangunan kantor yang rusak.

Akhirnya diturunkan dana oleh Pemerintah Pusat untuk melakukan pembangunan semua gedung dan rumah yang hancur tersebut, disini era dimana pembangunan gedung pemerintah, instansi swasta tidak lagi pakai ornamen gonjong atau rumah budaya Minang tempo dahulu.

Filosofi Minang telah mengingatkan Kita agar jangan terbawa pemikiran oleh sekali aie gadang, sekali tepian berubah. Dan jangan hal ini yang jadi contoh kita yaitu sakali aie gadang, sakali tapian barubah” artinya setiap kali terjadi peristiwa besar (seperti gempa besar, atau perubahan besar), maka akan terjadi perubahan pada tatanan atau lingkungan di sekitarnya.

Ungkapan ini menekankan bahwa perubahan besar selalu membawa dampak yang signifikan pada lingkungan dan kebiasaan yang ada dalam nagari.

Namun untuk rumah gadang jangan sampai dialami sekali aie gadang sekali tepian berubah, Kita harus kokoh dengan adat istiadat dan budaya Minang, rumah gadang Minangkabau tetap dibudayakan.

Rumah adat Gadang di Sumatera Barat, terutama Minangkabau, memiliki filosofi yang mendalam terkait dengan kehidupan sosial, budaya, dan spiritual masyarakatnya. Rumah Gadang bukan hanya sekadar tempat tinggal, tetapi juga merupakan simbol kesatuan, keberadaan, dan kebanggaan sebuah kaum atau suku di nagari.

Penulis selaku urang Minang menyaksikan runtuhnya bangunan pada waktu gempa 2009 tersebut, namun selaku Anggota Dewan Padang Pariaman yang terkena Gempa, dapat musibah, momen kembali membangun rumah orang tua dikampung, dipakai lah arsitektur rumah gadang yang hanya memakai gonjong teras. agar rumah orang tua Penulis ini lebih apik maka dipadukan juga pembangunan atap berbentuk surau lamo.

Momen paska gempa Penulis yang merupakan pejabat publik mencontohkan pembangunan rumah orang tua dikasih atap gonjong seperti Uda Wagub Vasko menepati rumah dinas yang sedikit merubah atap depannya pakai gonjong.

Apa yang dilakukan oleh Uda Wagub Vasko, inspirasi untuk masyarakat saat ini. Maka saatnya Kita tiru Uda Wagub yang sedang bergiat membangun rumah Gadang Minang ditanah Bundo ini.

Saat ini Wakil Gubernur Sumatera Barat (Wagub Sumbar) Vasko Ruseimy, menunjukkan kebanggaannya terhadap arsitektur tradisional Minangkabau kepada Timothy Ronald, seorang pengusaha muda yang dikenal luas di media sosial sebagai triliuner muda dan dijuluki Raja Crypto Indonesia”.

Momen tersebut terekam dalam sebuah video yang diunggah di akun Instagram @vaskoruseimy.

Dalam video itu, terlihat atap rumah dinas Wakil Gubernur yang telah diganti dengan arsitektur khas Minangkabau: atap gonjong.