Oleh Labai Korok
Paska Covid 19 banyak anak-anak Sumatra Barat yang terjerat dipermainkan digital atau dikekang oleh teknologi handphone Android, sehingga budaya-budaya permainan anak nagari hilang termasuk di Piaman.
Alhamdulillah, ternyata tradisi Piaman “Gubalo” ternak (sapi, kerbau) masih ada di kalangan para para anak nagari, Penulis masih temukan tradisi Gubalo jawi/kabau masih dijalankan oleh orang tua terhadap anaknya di Piaman.
Tradisi Permainan Gubalo jawi/kabau ini dilakoni oleh anak sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP) setiap harinya, mereka sepulang sekolah, istirahat lalu disuruh Gubalo jawi/kabau disepanjang jalan yang ada rumputnya atau di areal lapangan seperti lahan sawah yang tidak tanamani atau dilapangan sepak bola kampung yang tidak dipakai main.
Gubalo jawi/kerbau ini merupakan tradisi orang tua yang melati anaknya mandiri dan bertanggung jawab, orang tua akan membelikan sapi atau kerbau untuk anaknya, namun secara prinsip yang bertanggung jawab mengelola atau menggemukan ternak itu adalah orang tua.
Sedangkan anak, hanya menjadikan tradisi gubalo ternak tersebut sebagai permainan untuk melatih kepribadian prima seperti anak Gubalo jawi/kabau dilatih kesabaran, dilatih bisa mengenyangkan ternaknya sambil bermain, tentu juga disaat ternak dijual sang ayah juga akan memberi imbalan kepada anak sebagai upah jerih payahnya selama mengembala.
Diera Penulis masih Gubalo kabau (kerbau), inspirasi penyemangat gubalo itu adalah bisa duduk diatas kerbau sambil meniup puput padi, Penulis juga tidur-tiduran diatas kerbau itu sambil menikmati indanya suasana sore.
Terkadang Penulis juga iseng, sambil duduk diatas kerbau menyuruh kerbau itu berjalan dan berlari, karena tidak ada gantungan seperti berkuda akhirnya terjatuh. Namun itu situasi membuat mandiri dan tangguh tampa disadari.
Saat ini tradisi gubalo itu memang tidak semasif semasa era 90an, namun dilihat dari keadaan urang Piaman masih bisa tetap lestari atau di motivasi anak zaman now untuk kembali jalankan tradisi Gubalo jawi/kabau tersebut.
Apalagi anggaran Pemerintah Daerah tidak ada membersihkan rumput di tepi jalan, sehingga rumput sudah menimbulkan semak-semak, lalu keadaan ini sangat menguntungkan bagi urang Gubalo jawi/kerbau tersebut, disini tersedia makanan hijauan jawi/kerbau tampa batas.
Secara teori Gubalo disebut juga dengan gembala, proses cara berternak sapi atau kerbau ini, banyak anak nagari memelihara bukan di dalam kandang, tapi digembalakan di tempat terbuka seperti kawasan hijau di sepanjang pinggiran jalan dan lapangan rumput yang tidak ada tanaman produksi.
Penggembalaan adalah suatu daerah padang dimana tumbuh tanaman makanan ternak yang tersedia bagi ternak yang dapat merenggut menurut kebutuhan makannya dalam waktu singkat.
Gubalo ini bisa juga diketegorikan pemeliharaan ternak dengan rotation grazing adalah areal padang penggembalaan yang dibatasi, yang membentuk paddock (petakan), sehingga ternak bisa dibatasi area merumputnya.
Penggembalaan dilakukan berputar dari satu petak ke petak secara periodik dari jalur jalan ke jalan lain dan kembali ke petak awal, begitu seterusnya.
Gembala ternak yang jadi tradisi Piaman merupakan prosesi pemeliharaan ternak yang dipakai juga dalam sistem menggemukan dan peranakan. Andaikan ternak gemuk dijual dapat untung, jika ternak melahirkan juga mendapatkan uang untuk sang anak Gubalo jawi/kabau tadi.








