Today

Adai Bujang, Budaya Pelindung Padusi/Gadih Piaman

Oleh Labai Korok Piaman

Sedih dan marah hati ini menyaksikan kejadian nan viral padusi Piaman, Kayu Tanam dirudapaksa oleh para bujangan yang berakhir meninggal dalam kondisi yang tidak berprikemanusiaan.

Padusi/gadih Piaman bernama Nia Kurnia Sari (18), sosok yang taat membantu amak (Ibu)-nya mencari uang untuk kelangsungan cita-cita akan kuliah, berakhir secara tragis seperti itu.

Pertanyaannya dimana letak hati nurani para palaku yang terkenal bujang gadang, parik paga kampuang, ibarat kasus Nia ini, keadaanya seperti pagar makan tanaman.

Adai bujang Piaman memiliki budaya yang elok dan rancak sebenarnya, dahulu bujang Piaman termasuk laki-laki yang menjalani nilai adat basandi syarak-syarak basandi kitabullah dalam kampung, prilaku baa agamo Islam.

Jangankan kejadian memperkosa, sikap bujang merayu atau mengoda dan melirik anak padusi (perempuan) pun tak pernah dilakukan oleh bujang Piaman.

Begitu sangko dan sikap melindungi martabat padusi/gadis Piaman. Apalagi padusi/gadis itu masih sakampuang, sanagari atau masih samo-samo urang Piaman satu daerah adat.

Penulis/gadih mengalami situasi pada era masih kondisi bujang (ayam bakukuak ateh paga), dimana tidak ada rasa mau merayu, mempacari atau menggangu padusi/gadih sakampuang/nagari.

Terkadang jika ada bujang lain yang bermain dan melakukan melanggar adab, semua kita para bujangan akan nasehati dan marahi, agar tidak terulang kejadian itu.

Begitu sikap bujangan menjaga kemuliaan padusi/gadis Piaman yang tidak pernah ada kasus pelecehan atau kasus lain. Adai bujang Piaman itu pelindung padusi/gadis, tidak merusak kehormatan perempuan.

Sekarang seluruh unsur Ninik Mamak, Alim Ulama, Cadiak Pandai, bujangan Piaman yang masih menjaga nilai-nilai adai padusi/gadis Piaman, sama-sama mengokohkan dalam jiwa, dalam diri semua insan bujang, bahwa nilai menjaga padusi/gadis Piaman dilakukan.