Today

Pasar Pilkada, Calon Kepala Daerah Menang, Beri Uang Pemilih Sumbar!

Oleh Labai Korok Piaman

Seorang teman mengeluh, setiap dibuat simpul tim pemenangan ditengah nagari, ucapan pertama yang keluar dari masyarakat yaitu “calon ko lai ado pitihnyo Uda”, ujungnya pembentukan tim pemenangan Kepala Daerah tidak bisa terbentuk, andaikan uang tak ada.

Penulis mengatakan “itulah fenomenanya kawan, semua diukur dengan uang dan logistik”. Artinya pemenang sesuai dengan konsep kerja Pemerintah Kita yaitu kinerja berbasis anggaran, jika tak ada anggaran program maka kinerja Pemerintah tak jalan.

Suasana dialog Penulis dengan kawan itu menyimpulkan bahwa suasana kebatinan politik dilapangan diwarnai oleh mesin uang, tidak ada uang maka gerakan pemenang tidak jalan.

Jadi pantasan saja para elit partai ditingkat pusat, ketika mengeluarkan dukungan terhadap pasangan calon kepala daerah diawali berapa uang yang akan di store untuk pemenangan.

Akhirnya tokoh Paslon Kepala Daerah yang dapat rekomendasi adalah para pemain yang memberi uang, terkadang permainan uang ditingkat partai juga kotor seperti ada proses lelang atau tender, yang banyak membayar itu yang dapat rekomendasi seperti Payakumbuh, Padang, dan daerah lainnya.

Uang dan uang tidak hanya terjadi dilevel elit, dilevel masyarakat pun uang juga menjadi barometer kemenangan seperti yang pernah didialogkan oleh PadangTV.

Andaikan pencoblosan Pilkada Sumatra Barat dilakukan saat ini (Agustus 2024). Data survey menunjukan bahwa kandidat dipilih karena uang akan menang dengan pasarnya 40,71% pemilih, ini diungkapkan saat acara advokat Sumbar bicara, PadangTV.

Melihat data pasar money politik lebih kurang 40% tersebut, andaikan pasangan calon kepala daerah itu tiga pasang calon maka yang menang itu nanti adalah kepala daerah yang royal bagi-bagi uang dilapangan atau ditengah masyarakat pemilih.

Kesimpulan Penulis untuk pilihan mayoritas pemilih masih dimenangkan kandidat banyak uang. Jika ada kandidat kepala daerah Sumbar melakukan bagi-bagi uang (money politik) seperti kasus pemilihan legislatif 2024 kemarin maka dipastikan 40% lebih pasarnya ada menunggu dilapangan, kasih uang, akan dicoblos orangnya.

Dilihat dari fenomena itu maka teori menang di Pilkada se-Sumatra Barat sederhana saja, ada uang, kasih kepemilih sudah dapat elektabilitas 40%, andaikan Pilkada serentak itu tiga pasang berarti kandidat ada uang sudah menang.

Penulis hanya mencoba membuka analisa data bahwa andaikan orang kaya mau maju jadi kandidat calon Kepala Daerah baik tingkat Sumbar, tingkat Kepala Daerah Kabupaten dan Kota, cukup modal siapkan uang 40% lebih, pasarnya sudah tersedia dan siap menjadi pemilih loyal.

Setelah itu pertanyaan bagai mana caranya menggarap suara 40% tadi, apalagi langkah-langkahnya, menurut Penulis, siapa pun kandidatnya jika sudah terbiasa main di Pileg 2024 kemarin, diyakini sudah paham cara menunaikan politik uang ini ditengah masyarakat.

Sekarang sudah terang benderang dalam tulisan ini bahwa yang menang pilkada Se-Sumbar ini baik Gubernur, Bupati, Walikota itu tidak lagi pertahan, tapi yang pemenang itu adalah kandidat yang berani bagi-bagi uang dilapangan. Ngeri negeriku.