Today

Halusinasi Membangun Sumatera Barat Dalam Pilkada, Mahyeldi-Epyardi Asda

Oleh Labai Korok Piaman

Semua nama-nama Balon Kepala Daerah dipastikan memiliki niat memajukan dan akan membangun Sumatra Barat melalui proses Pilkada, dipastikan semua kandidat berucap untuk rakyat sejahtera, makmur dan lainnya.

Memang itu niatnya, pertanyaan mengapa tidak bisa secara politik dipasangkan antara Mahyeldi dengan Epyardi Asda, jawaban Penulis bisa saja dipasangkan, kalau memang niatnya membantu rakyat Sumbar.

Sekarang survey sudah menyatakan bahwa tiga nama calon gubernur Sumbar memiliki elektabilitas tinggi yaitu Mahyeldi diangka 40%, Andre Rosade diangka 30% dan Mulyadi diangka 20%, sedangkan kandidat lain dibawah 5% termasuk Penulis..hehehe.

Dari angka yang muncul tersebut ternyata dua nama sudah menyatakan tidak maju atau belum memberikan kepastian untuk maju yaitu Andre Rosade dan Mulyadi.

Sedangkan dari nama yang mendapat hasil survey elektabilitas 5% hanya Epyardi Asda yang siap maju jadi Calon Gubernur Sumbar, sedangkan nama-nama yang lain seperti hanya mengintai menjadi Wakil Gubernur Sumbar.

Sekarang data survey sudah bisa dijadikan rujukan dan dasar apakah memang nama-nama yang memiliki elektabilitas tersebut ingin membangun Sumbar, ingin memakmurkan masyarakat Sumbar, memang betul niatnya ingin Sumbar lebih baik dan lainnya.

Jika memang mereka ingin demi bangsa dan negara, menurut Penulis sangat masuk akal Mahyeldi-Epiyardi Asda berpasangan berdua, ini halusinasi yang masuk akal jika berbicara demi kepentingan rakyat Sumbar ini.

Pasangan Mahyeldi-Epyardi Asda pasangan idelan yaitu Mahyeldi memiliki elektabilitas 40% yang memiliki basis masyarakat religius, sedangkan Epyardi Asda merupakan kandidat tokoh nasional yang hari ini sedang berkuasa di republik Indonesia ini.

Jadi pasangan Mahyeldi-Epyardi Asda pasangan yang menurut Penulis adalah pasangan ingin membantu masyarakat Sumbar, itu riel niat membantu, sesuai dengan cita-citanya berdua.

Tapi kalau Mahyeldi dan Epyardi Asda berhadap-hadapan, berarti ini murni demi niat yang tak jelas, atau tukang olah politik yang bermain agar dua tokoh hebat ini sengaja dibenturkan demi kepentingan entah-berantah.