Today

Ramadhan: Momentum Perubahan dan Evaluasi Diri

🌙 Ceramah Ramadhan

Oleh : Hendri Gunawan, S.Pd.I


Mukadimah

Bismillahirrahmanirrahim.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah ﷻ yang telah memberikan kita nikmat iman, nikmat Islam, dan nikmat kesehatan sehingga kita dapat kembali merasakan indahnya bulan suci Ramadhan. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Ramadhan bukan hanya bulan menahan lapar dan dahaga. Ramadhan adalah bulan perubahan dan bulan evaluasi diri. Ia datang setiap tahun, tetapi tidak semua orang berubah karenanya.


I. Ramadhan dan Tujuan Takwa

Allah ﷻ berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ … لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)

Tujuan utama puasa adalah takwa.

Menurut Ibnu Katsir dalam tafsirnya, puasa melemahkan syahwat dan mempersempit jalan setan dalam diri manusia. Dengan demikian hati menjadi lebih mudah tunduk kepada Allah.

Ramadhan mengubah:

  • Hati yang keras → menjadi lembut
  • Lisan yang kasar → menjadi santun
  • Jiwa yang lalai → menjadi sadar

II. Ramadhan sebagai Waktu Muhasabah

Allah ﷻ berfirman:

وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ
“Hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.”
(QS. Al-Hasyr: 18)

Ayat ini adalah perintah untuk evaluasi diri (muhasabah).

Menurut Imam Al-Qurthubi, seorang mukmin diperintahkan menilai amalnya sebelum datang hari perhitungan.

Sahabat Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata:

“Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab.”

Ramadhan menjadi cermin bagi kita:

  • Bagaimana kualitas shalat kita?
  • Sudahkah Al-Qur’an menjadi sahabat harian?
  • Apakah puasa kita hanya menahan lapar, atau juga menahan dosa?

III. Puasa sebagai Pendidikan Jiwa

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Puasa itu perisai.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Menurut Imam An-Nawawi, makna “perisai” adalah pelindung dari maksiat dan api neraka.

Puasa mendidik kita:

  1. Ikhlas, karena hanya Allah yang tahu kualitas puasa kita.
  2. Sabar, karena kita menahan hawa nafsu.
  3. Empati sosial, karena kita merasakan lapar sebagaimana kaum dhuafa.
  4. Disiplin spiritual, karena ibadah meningkat.

IV. Tanda Ramadhan Membawa Perubahan

Menurut Ibnu Rajab Al-Hanbali, tanda diterimanya amal adalah adanya kebaikan setelahnya.

Jika setelah Ramadhan:

  • Kita tetap menjaga shalat,
  • Tetap menjaga lisan,
  • Tetap dekat dengan Al-Qur’an,

Maka itu pertanda Ramadhan telah berhasil mendidik jiwa kita.

Namun Rasulullah ﷺ memperingatkan:

“Celakalah seseorang yang mendapati Ramadhan namun tidak diampuni dosanya.”
(HR. Tirmidzi)


V. Bagaimana Agar Ramadhan Menjadi Momentum Perubahan?

  1. Perbaiki niat hanya karena Allah.
  2. Perbanyak membaca dan mentadabburi Al-Qur’an (QS. Al-Baqarah: 185).
  3. Hidupkan malam dengan qiyam dan doa.
  4. Perbanyak istighfar dan taubat.
  5. Tingkatkan sedekah dan kepedulian sosial.

Penutup

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Ramadhan adalah kesempatan emas. Tidak semua orang yang Ramadhan tahun lalu masih hidup hari ini. Maka jangan biarkan Ramadhan berlalu tanpa perubahan.

Semoga kita keluar dari bulan suci ini sebagai pribadi yang lebih bertakwa, lebih sabar, dan lebih dekat kepada Allah ﷻ.

اللهم اجعلنا من عتقائك من النار في هذا الشهر الكريم

Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.