Today

Pejabat Keuangan Indonesia Mundur, Awal Tradisi Baik Benegara

Oleh Labai Korok

Mimbar-MinangNews.com – Seharusnya memang mundur jika tidak memberi dampak dan nilai kebaikan bagi masyarakat (gagal), itu langkah mulia yang diambil oleh petinggi otoritas jasa keuangan (OJK) dan petinggi bursa efek Indonesia (BEI) saat ini.

Posisi petinggi bursa efek Indonesia (BEI) hingga otoritas jasa keuangan (OJK) beramai-ramai mengundurkan diri pada Jum’at (30/1/2026).

Sikap pengunduran diri tersebut sebagai bentuk tanggung jawab buntut volalitas pasar modal dalam dua hari terakhir yang kacau, serta merugikan negara.

Kabar pengunduran diri pertama kali disampaikan oleh Direktur Utama BEI Iman Rachman pada Jum’at pagi, saat pasar modal kembali pulih. Dia berharap kondisi tersebut dapat dipertahankan.

Keempat petinggi OJK pun ikut mengundurkan diri dengan alasan serupa. Mereka adalah Ketua Dewan OJK Mahendra Siregar; Wakil Ketua Dewan OJK Mirza Adityaswara; Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon (KE PMDK) OJK Inarno Djajadi; serta Deputi Komisioner Pengawas Emiten, Transaksi Efek, Pemeriksaan Khusus, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon (DKTK) OJK IB Aditya Jayaantara.

Penulis selaku anak bangsa memberikan apresiasi terhadap petinggi keuangan itu mundur, kalau memang gagal, harus mundur, jangan tetap bertahan diposisi yang ada. Apalagi memaksakan diri tetap bertahan diposisi yang banyak orang sudah menganggap pejabat gagal.

Saatnya budaya gagal lalu mundur dimiliki oleh seluruh anak bangsa. Sehingga sudah nampak pintu perbaikan bangsa Indonesia ini kedepan. Selama ini yang jadi masalah itu adalah sudah terang gagal memimpin, sudah jelas tidak berhasil, namun tetap bertahan dengan segala cara di kekuasaan jabatan tersebut.

Semua masyarakat Indonesia perlu angkat topi dan beri rasa hormat dengan kemunduran petinggi BEI dan OJK tersebut, semoga pejabat yang lain mengikuti langkah tersebut, andaikan gagal memimpin suatu institusi nyatakan mundur.

Sudah saatnya elit-elit politik, elit-elit militer, elit-elit kekuasaan memberikan tauladan pada generasi berikutnya, yaitu jika gagal lalu dengan kesadaran mundurkan diri dari jabatan.

Contoh mulya tersebut harus sesegera mungkin diwujudkan oleh elit-elit bangsa ini, sebelum gerakan masyarakat sipil bergerak menurunkan mereka dari posisi jabatan negara saat ini karena tak mau mundur, walaupun negara ini sudah mau runtuh.

Jangan kasus negara Nepal dialami oleh bangsa Indonesia ini, dimana pejabatnya sudah lakukan pengkhianat pada rakyat terkhusus pada generasi berikutnya.