Today

Bencana Sumatra Barat Perantau Turun Membantu, Budaya Minang

Oleh Labai Korok

Mimbar-minangnews, Salah satu group WA alumni sekolah di Piaman, mereka semua perantau dengan jumlah anggota group WA tak banyak, mengumpulkan donasi membantu bencana galodo yang ada di kampungnya (Sumatera Barat).

Setelah itu perantau asal Batavia, bisa dibaca dimedsos, telah melakukan Gerakan “Marandang 1 Ton Daging Rendang dari Rantau untuk saudara terkena korban galodo di Sumatera”,

Hal ini adalah wujud nyata dari kecintaan yang dalam dari perantau. Disini semua proses memasak rendang ini menjadi simbol bersatunya hati para perantau untuk mengirimkan energi positif dan harapan agar tanah leluhur cepat pulih kembali.

Rendang, yang dikenal sebagai makanan tahan lama dan simbol kehangatan keluarga, menjadi representasi dari ‘cinta yang dikirim dari perantauan dibuat secara bergotong royong.

Mereka perantau tidak bisa pulang, hanya bisa berdoa dan merapal cemas di rantau. Kami tidak bisa berada di sana untuk memeluk mereka, tapi kami berkumpul dan memasak rendang dengan seluruh cinta dan air mata kerinduan dari mereka para perantau, Rendang ini adalah pelukan mereka dari jauh, dan doa para perantau agar kampung Minang cepat pulih.

Cerita diatas saat ini bisa kita dapatkan dari para perantau, mereka bersama turun membantu masyarakat Sumatera terkena bencana. Menurut Penulis ribuan perantau turun membatu secara langsung, ada yang dimuat dimedia ada yang tidak dimuat media bantuan mereka tersebut.

Alhamdulillah budaya Minangkabau masih melekat pada perantau saat ini, yaitu “budaya alek buruak bahambawan” artinya dalam budaya Minang, “Alek’ buruak bahambauan” atau sering disebut “kaba buruak bahambauan” artinya adalah kewajiban moral untuk datang membantu jika ada bencana,

Atau semua ikut melayat atau takziah ketika ada kabar duka (kematian, musibah, atau kemalangan) di kampung/lingkungan, meskipun tidak diundang secara khusus karena sudah menjadi tradisi dan kepedulian komunal masyarakat Minang terhadap sesama.

Semua urang Minang mendapat kabar melalui media, melalui info burung sekali pun, semuanya wajib turun membantu, turun kelokasi korban secara iklas.

Keadaan ini beda dengan “alek baik bahimbawaan”, artinya setiap acara balarek, pesta, acara yang bersenang-senang/gembira itu wajib diundang untuk datang, andaikan tidak diundang tidak boleh datang atau hadir. Itu beda alek buruak bahambawan tadi.

Saat ini bencana masih terjadi, pemerintah propinsi Sumbar memperpanjang tanggap darurat sampai tanggal 22 Desember 2025, tentu Kita perantau tetap jalan budaya saling membantu tadi, saling memberi pada korban musibah.

Doakan kepada para perantau yang telah memberi bantuan pada korban bencana di Sumatera secara iklas diberi perlindungan dan semua bantuan jadi amal ibadah oleh Allah SWT. Aamiin