
Oleh : Hendri Gunawan
Calon Pemimpin untuk Pilkada sebentar lagi akan dilaksanakan, masyarakat sudah bisa menilai untuk memilih pemimpin yang seperti apa?, ini menjadi pertanyaan yang mendasar agar memilih pemimpin ini bukan hanya perkara dunia saja, namun juga akan dipertangung jawabkan kelak dihadapan Tuhan, seandainya jika ditanya tentu sudah ada jawabannya, sekedar bocoran saja penulis ungkapkan.
Pemimpin seperti apa?, Islam sudah mengajarkan contoh dari Rasulullah SAW, yang mana sudah menjadi rahasia umum sebagai panutan umat beragama Islam, yaitu Sidiq, Tabliq, Fathanah dan Amanah, contoh ini merupakan hal yang kongkrit sebagai tauladan dan pondasi dasar.
- Pemimpin yang Sidiq, merupakan keharusan dalam memimpin karena kalau tidak maka terjadi halal yang melanggar norma dan agama, Pemimpin yang Sidiq memiliki arti jujur yang dalam arti yang luas berintegritas. Sidik bukan sekedar jujur tetapi dalam diri seorang pemimpin memiliki sikap yang tegas sesuai dengan apa yang diucapkan dan dipikirkan dan dilakukan dan selalu berpihak pada kebenaran, baik secara UU dan norma agama.
- Pemimpin yang Tabligh memang sangat dibutuhkan dalam sebuah kebijakan nantinya, Seorang pemimpin harus memiliki sifat tabligh, artinya berani menyampaikan kebenaran dan melawan kebatilan. Selain berani menyuarakan kebenaran dan berani dinilai secara kritis oleh rakyat, pemimpin yang tabligh juga tidak bisa dibeli dengan kekuatan apa pun.
- Pemimpin yang Fathonah tentu memiliki disiplin dan etos kerja yang baik, Perilaku pemimpin yang fathonah tercermin pada etos kerja dan kinerja pemimpin yang memiliki skill yang teruji dan terampil, dan (Fadhl, 2018). Seorang pemimpin yang cerdas harus pandai mengontrol emosi agar tetap stabil. Pemimpin tersebut harus sanggup menyelesaikan permasalahan dengan cepat, tepat, dan bijaksana.
- Pemimpin juga harus amanah yang menjalankan perintah dari Amanah tersebut, Pemimpin yang layak dipercaya apabila jujur, adil, dan selaras antara kata yang diucapkan dengan tindakan yang dilakukan. Dan pemimpin yang amanah mampu mengutamakan kepentingan publik dibanding dengan kepentingkan pribadi. Maksudnya adalah seorang pemimpin amanah akan berani melakukan tindakan tidak popular.
Menjadikan negeri ini baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur (sebuah negeri yang mengumpulkan kebaikan alam dan kebaikan perilaku penduduknya), artinya secara tersirat seorang pemimpin yang dipilih nantinya merupakan gambaran masyarakat kita, kalau pemimpin BerTuhan maka rakyat juga BerTuhan dan juga sebaliknya.
Menjadi perhatian khusus daerah Sumatera Barat yang memang harus dilakukan perubahan/lanjutkan saat ini dalam dan sangat memprihatinkan kondisi pertumbuhan daerahnya, baik dalam pembangunan Imprastruktur, pelayanan publik, kesehatan dan pendidikan belum terperhatikan dengan baik oleh pemerintah momen pilkada inilah bagi calon-calon melakukan penguatan dalam visi misi untuk melakukan perubahan/lanjutkan untuk gagasan dan ide lebih baik lagi, pendekatan terhadap stick holder dimasyarakat agar diterima gagasan dan ide untuk lanjutkan memperbaiki ataupun perubahan yang akan dilakukan nantinya.
Saat ini Sumbar duka mendalam pasca musibah yang melanda beberapa daerah seperti Agam, Tanah Datar, Bukittinggi dan beberapa daerah lainnya, sebelumnya di Pesisir Selatan, Padang, musibah silih berganti hadir seakan-akan mengingat kita agar kembali mengingat Tuhan menjalankan perintah dan menjauhi laranganNya pilihlah pemimpin itu dekat dengan Tuhan, pilihan yang tepat tidak salah memilih pemimpin apalagi memilih kepala daerah ataupun presiden sekalipun, lima tahun kedepan nantinya kita merasakan dampak bagi pemimpin yang baik, buruk pula kalau salah dalam memilih pemimpin, khawatir nanti seandainya pertangungjawaban diakhirat kelak, apa jawaban kita jika salah memilih pemimpin, apalagi memilih karena materi bukan pemimpin bertuhan. (*)







