
Oleh Labai Korok Piaman
Penulis ingat tahun 2009, Presiden SBY memberi peringatan keras kepada para pejabat, kepala daerah tertawa disaat wawancara, temui korban dan berfoto-foto diareal bencana.
Kejadian SBY marah itu terkait penanganan bencana menyusul gempa 7,6 skala richter (SR) di Sumbar juga pada waktu itu. Para pejabat harus mengutamakan kecepatan dan bertindak serius. Pejabat tidak boleh tertawa-tawa saat menangani bencana.
Cerita ini masih dapat dilihat dalam medsos seperti detik, com, ada petugas dan pejabat yang ketawa-ketawa saat masuk CNN. Kalau itu dilihat dunia, katanya ada musibah, katanya mengubur jenazah, kok pada ketawa-ketawa,” kata SBY saat berkunjung di Balaikota Pariaman, Sumatera Barat, Jumat (2/10/2009).
Saat itu SBY meminta semua pihak mengutamakan kecepatan dalam tanggap darurat penanganan bencana. Bukan hanya untuk perusahaan, namun juga para pemimpin, dari tingkat pusat maupun daerah harus bertindak cepat.
Tak lupa, SBY pun meminta masyarakat agar tidak menjadikan lokasi bencana sebagai tempat wisata, yang ujung-ujungnya malah merepotkan evakuasi.
Sepertinya pejabat, kepala daerah dan calon kepala daerah didaerah Sumatra barat ini sudah memiliki tabiat, budaya saat bencana tidak memperlihatkan sikap empati atau kepedulian dalam bentuk hiba pada bencana.
Dimedsos Penulis lihat, apakah di Facebook, Instagram, TikTok, YouTube dan lainya sangat banyak para pejabat negara atau yang mau jadi pejabat juga tersenyum, tertawa ngakak-ngakak dan berfoto seperti sedang berkunjung ketempat wisata.
Dari tampilan yang ada terkesan tidak rasa hiba, rasa kepedulian yang sifatnya empati sedang berlangsung kawan terhadap korban yang meninggal, yang masih hilang dan kerusakan parah.
Bencana yang terjadi di Tanah Datar, Bukittinggi, Agam hari ini menurut Penulis termasuk bencana yang menelan korban sangat banyak, hitungan bisa mendekati ratusan, jika dibandingkan bencana 10 terakhir ini bencana yang terbesar yang perlu dipahami.
Sampai sekarang belum ada kepastian data, belum ada berapa korban sebenarnya kecuali hanya berusaha mencari dan mengevakuasi korban tampa berbasis data yang kongrit.
Himbawan Penulis janganlah para pejabat pusat, propinsi, kabupaten, kota atau yang mau jadi pejabat suka tertawa terbahak-bahak, berfoto seperti bencana galodo atau banjir sekarang seperti tempat wisata.








