Today

Demonstrasi Perjuangan Aktivis, Langkah Penyelamatan Rakyat

Demonstrasi Perjuangan Aktivis, Langkah Penyelamatan Rakyat

Kutipan Buku Labai Korok.

Mimbar-minangnews.com – Dalam transisi suatu masyarakat, gejolak sosial adalah hal yang tidak bisa dihindari dalam perjalanan peradaban berbangsa dan bernegara.

Oleh sebab itu, para pejuang tidak boleh hanya bisa mengutuk keadaan, mengutuk kegelapan, tetapi harus secara aktif membuat rekayasa sosial (social engineering), menghidupkan lilin, menuju masyarakat yang dicita- citakan.

Dalam perspektif gerakan kemanusian yang penuh syariah, kita memimpikan sebuah masyarakat madani yang ditata dengan nilai-nilai Ilahiah yang luhur dan universal, melahirkan keadilan dan kesejahteraan bagi semua sebagai berkah bagi seluruh alam.

Dilain pihak, kita harus menyadari bahwa rekayasa sosial, untuk mewujudkan mimpi- mimpi gerakan kemanusian secara metodologis juga mengalami perkembangan. Hal ini disebabkan oleh adanya tantangan demi tantangan yang kita hadapi.

Itulah sebabnya, dikalangan aktifis Islam ada sebuah hadits yang sangat popular dan menjadi landasan aksi- aksi para aktifis muslim.

Hadits itu adalah yang lebih kurang maknanya :
“Apabila kamu menyaksikan kemungkaran, maka rubahlah dengan tanganmu, jika tak
sanggup lakukan dengan lisanmu dan jika tak sanggup juga, maka lakukanlah dengan hatimu, tetapi ia adalah selemah-lemah iman”.

Bagi banyak aktifis muslim, aktivis pergerakan mahasiswa/pemuda, teks ini telah memberikan banyak inspirasi dalam banyak hal yang bisa ditapsirkan.

Diantaranya tentang definisi kemungkaran. Ternyata semakin kita menyelami kehidupan
public, semakin banyak jenis kemungkaran yang kita lihat (tidak saja jumlahnya, tapi
implikasi dan kualitisnya).

Sebaliknya semakin kita bersentuhan dengan persoalan
masyarakat, yang terdefinisi sebagai kemungkaran adalah hal-hal yang biasa nampa, terutama
dalam lingkup individual (aurat, hamr, dll).

Berikutnya hadits itu juga memberikan perspektif tentang cara melakukan perubahan. Dari cara yang paling vulgar yaitu dengan tangan (kekuasaan, aksi, pemaksaan, dll) sampai paling tertutup (ingkar, mangkir, absen, dll) cara-cara inilah yang setiap saat mengalami pengembangan contoh dan semakin mengarah kepada tindakan terbuka. Artinya, metode rekayasa sosial (dakwah) semakin hari semakin leluasa dilakukan dalam pemerintahan yang bergerak dari otoritarianisme kepada domokrasi.

Tentu situasi ini mengambil Indonesia sebagai contoh. Situasi terbuka inilah yang harus dipertahankan oleh gerakan islam. Karena ia adalah jerih payah dan tahapan yang memang harus kita lalui.

Sekacau-kacau transisi yang bebas jauh lebih baik dari pada pemasungan dan pemenjaraan yang teratus. Dalam situasi seperti ini, kita membutuhkan sedikit lagi upaya untuk menggiring kebebasan masyarakat untuk memilih islam sebagai kebenaran yang terntadingi.

Maka kebebaasan yang disebabkan oleh karena kelemahan pemerintah ini, harus kita lalui dengan suatu upaya yang mengarah pada mencapai pemerintahan yang kuat dan berwibawa.

Kita yakin itu bisa kita lalui dengan lebih cepat, karena situasi yang kondusif. Transisi menuju demokrasi, mengutip Fami Huwaidy. Pemikir Mesir modern, adalah jembatan emas menuju masyarakat madani yang sesuai dengan ajaran syarii.

Jadi, inilah yang menjadi kata kunci dinamika gerakan kemanusian dimana saja. Bahwa transisi adalah seni yang harus dikelola. Karena itu, manhaj (metode) gerakan islam boleh sama karena sumbernya (qur’an dan sunnah) sama. Tetapi, yang tidak bisa dipastikan adalah metode yang betul-betul berjalan dan mengalun sesuai dengan irama dan asumsi lokal, karena pada akhirnya mengelola dakwah pergerakan kemanusian adalah seni yang tidak kaku dan harus mempertimbangkan situasi dan kekinian. Itulah sebabnya buku yang ada ditanagan pembaca yang budiman ini menjadi penting. Buku yang bercerita tentang “Nilai Dasar Syari Demonstrasi” ini termasuk buku langka yang ditulis oleh aktivis, dan mungkin saja baru dikalangan aktivis pergerakan saat ini.

Hal ini sekali lagi karena pencapaian transisi yanga lebih cepat, sehingga memerlukan semacam tuntunan (guidance). Tidak seperti negara-negara muslim lan yang sampai saat ini masih hidup dibawah rezim yang otoriter.

Buku ini, tidak saja secara padat memberikan argumentasi dalam dakwah demonstrasi, tetapi juga menuntun cara-cara persiapan dan bagaimana menindak lanjuti hasil sementara yang dicapai.

Kira tidak menulis berdasarkan teori saja, tapi ia menulis sebagai pelaku (parktisi) karena ia merupakan salah seorang aktifis yang sangat dinamis.